Senin, Mei 20, 2019
Home > Peristiwa > Internasional > Tradisi Boneka Permen Meriahkan Perayaan Maulid Nabi di Mesir

Tradisi Boneka Permen Meriahkan Perayaan Maulid Nabi di Mesir

Epistemik.com, Internasional – Umat Muslim di seluruh dunia menandai tanggal 12 Rabiul Awwal sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.  Pada umumnya umat muslim dunia setiap tahunnya selalu memperingati perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau dikenal dengan ‘Maulid Nabi’. Namun, perayaan Maulid Nabi di setiap negara bervariasi sesuai dengan tradisi dan budaya mereka. Sebagian besar negara Muslim merayakan Maulid Nabi melalui tradisi dan acara yang meriah.

Bagi banyak umat Islam, perayaan Maulid Nabi merupakan acara bersejarah dan budaya yang telah berlangsung sejak lama. Mereka menyadari bahwa makna Maulid Nabi adalah penting baginya untuk mengingat risalah dan perjalanan hidup baginda Rasul Muhammad SAW. Yang mana, perayaan itu dilakukan sebagai ekspresi kecintaan dan doa mereka terhadap Nabi Muhammad SAW.

Salah satu perayaan Maulid Nabi yang menarik ada di Mesir. Di Mesir, perayaan dan peringatan Maulid Nabi memiliki akar sejarah tersendiri. Banyak tradisi yang ada di Mesir dibawa sejak berabad-abad yang lalu. Salah satunya, adalah boneka gula atau dikenal ‘Arouset El-Moulid’ dan permen gula berbentuk sultan di atas kuda. Permen tradisional yang dibuat dalam berbagai bentuk boneka itu merupakan salah satu sajian rutin warga Mesir dalam perayaan Maulid Nabi di Mesir.

Tradisi pembuatan permen berbentuk boneka yang dikenal di Mesir saat ini pertama kali diperkenalkan pada masa Fatimiyah. Sebelum itu, perayaan Maulid Nabi hanya melakukan pembacaan Al-Quran. Namun semenjak masa Fatimiyah, pada saat bulan Maulid Nabi publik mulai dihias, tenda-tenda disiapkan untuk para Sufi menyanyi dan membacakan puji-pujian serta permen gula khusus Maulid dibuat.

Permen Maulid tersebut dibuat dari wijen yang dilapisi gula, pistachio, dan kacang almond. Adapun permen yang dibentuk menjadi boneka dan bentuk sultan di atas kuda terbuat dari gula dan kacang-kacangan yang dihias dengan kertas berwarna.

Di Mesir dan di sebagian besar dunia, masyarakat Muslim merayakan Maulid Nabi pada hari ke-12 bulan ketiga dalam kalender Islam atau disebut Rabi’ul Awwal. Namun karena kalender lunar maju 11 hari setiap tahun, tanggal pasti 12 Rabi’ul Awwal dalam kalender masehi berubah dari tahun ke tahun. Tahun ini, Maulid Nabi jatuh pada Jumat, 1 Desember 2017.

Kisah Boneka Maulid Dan Boneka Ksatria

Tradisi boneka Maulid dan sultan di atas kuda berasal dari zaman kekuasaan Fatimiyah El Hakim Ba’amrUllah. Namun, asal usul boneka Maulid itu sendiri telah banyak diperdebatkan. Ada banyak teori berbeda tentang asal mula tradisi itu terjadi.

Mayoritas masyarakat Mesir percaya bahwa dalam satu perayaan Maulid tersebut, Ba’amrUllah, berpakaian layaknya prajurit yang menunggangi seekor kuda dan pergi ke kota bersama salah satu istrinya berjalan di sampingnya. Sang istri mengenakan gaun putih glamor dengan mahkota bunga melati di atas kepalanya.

Selama bertahun-tahun, tradisi ini terus berkembang. Para pembuat permen telah menyempurnakan boneka dengan berbagai bentuk dan warna. Perman boneka itu bukan hanya simbol Maulid semata. Namun, juga menggambarkan pasangan yang baru mengikat jalinan pernikahan. Selama era Fatimiyah, masyarakat juga akan membuat permen berbentuk pengantin pria dan wanita saat merayakan pernikahan.

Kisah lain yang diceritakan pada masa Fatimiyah menyebutkan, bahwa tentara yang kembali dari perang akan menikahi pengantin wanita yang cantik sebagai hadiah atas keberanian mereka. Permen boneka ini juga dibuat setiap tahunnya untuk menghormati kembalinya tentara tersebut.

Pembuatan Boneka Permen

Saat pembuat permen melihat keindahan istrinya, mereka memutuskan untuk menggambarkannya dan juga menggambarkan Ba’amrUllah di atas kudanya. Karena itulah, mereka memahat boneka gula yang dihiasi warna-warna cerah dan tiga kipas berwarna-warni melingkar dilekatkan dari belakang. Permen berbentuk boneka dan seorang sultan di atas kuda dibuat dengan menuangkan larutan gula manis ke dalam tempat cetakan dan kemudian melapisinya dengan lapisan gula kurang lebih setebal lima sentimeter.

Kecintaan terhadap cerita rakyat setempat dan perayaannya telah melestarikan tradisi Maulid Nabi sejak era kekuasaan Fatimiyah hingga saat ini. Dalam perayaan Maulid Nabi ini, pembeli permen dapat menggunakan keahlian mereka membuat kerajinan tangan dengan membuat ulang boneka dengan kertas berwarna dan aneka hiasan kerajinan yang berbeda.

Saat merayakan Maulid tersebut, warga Mesir biasanya menghias seluruh kota dan mendirikan tenda tempat permen. Permen tersebut kemudian dibagikan kepada warga. Perayaan Maulid di Mesir umumnya juga dimeriahkan dengan berbagai acara seperti pertunjukan tarian sufi, teater sufi, karnaval sufi, hingga halakah ilmiah bersama para masayyikh di Mesir.

Sumber : Egypt Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *