Sabtu, Februari 23, 2019
Home > Gaya Hidup > Sadar Atau Tidak, Beginilah Jika Mahasiswa Mulai Membudayakan NGOPI

Sadar Atau Tidak, Beginilah Jika Mahasiswa Mulai Membudayakan NGOPI

Pahit memang pahit,
Hitam memang hitam,
Tapi kejujuranya membuat semua orang merindukanya.

Ngopi, siapa yang tidak tahu aktifitas ini, hampir setiap kepala masyarakat Indonesia faham betul apa itu ngopi. Ngopi atau kegiatan minum kopi dan nongkrong di cafe maupung warung-warung kopi, merupakan suatu keseharian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, baik tua muda, pria maupun wanita. Segala golongan terlibat didalamnya baik berstrata sosial rendah sampai strata sosial paling tinggi.

Sejarah panjang sampai kopi bertahan dan menjadi budaya Indonesia, kopi adalah komoditi unggulan sejak dahulu kala, sebagai salah satu rempah yang menjadi penyuplai perekonomian yang menjajah bangsa ini, kopi dibawa oleh penjajah Belanda kenegeri ini, kemudian dipaksakan kepada pribumi untuk ditanam di tanah Indonesi yang subur, semakin hari keberadaannya semakin banyak dan hampir ada di seluruh bumi nusantara.

Banyak hal terjadi dalam proses ini, kegiatan ngopi melibatkan banyak manusia yang melakukan proses sampai kopi tersaji dalam gelas yang ada didepan kita. Dalam sehari-hari nilai transaksi kopi di negeri ini mencapai angka triliyunan mulai kopi dari para petani, tengkulak, distributor, pabrik pengolahan, toko-toko penjual kopi, sampai dengan warung-warung, cafe, resto, dan sebagian besar rumah penduduk Indonesia.

Dalam dunia mahasiswa mungkin kopi adalah hal yang sangat dekat dan melekat sebagai sebuah minuman yang dikonsumsi sehari-sehari, bahkan setiap waktu. Kata mereka dengan ngopi hidup menjadi tenang dan santai, dengan ngopi masalah dan problematika hidup bisa terselesaiakan, dan dengan ngopi akan mendapakat kredebilitas sosial yang tinggi. Mungkin hal diatas adalah sebuah kebenaran adanya, mengingat semakin hari semakin banyak pecandu kopi yang memenuhi warung-warung, cafe, dan kedai kopi yang lainya.

Tapi ada hal lain yang seharusnya mampu kita jadikan sebagai sebuah bahan kajian dan perenungan tentang dampak positif dan negatif ngopi, untuk akibat positif saya kira sudah banyak yang bahas, oleh karenanya penulis mencoba menelisik dinamika dunia perkopian, khususnya mahasiswa dalam bentuk lain.

Alasan mengambil segmentasi mahasiswa adalah kondosi hari ini tentang kehidupan para mahasiswa yang jumlahnya luar biasa di setiap Kota. Aktifitas ngopi hampir menjangkit sebagian banyak mahasiswa laki-laki dan tak jarang juga mahasiswa perempuan jumlahnya juga tidak kalah besar.

Sebagai contoh adalah di Kota Malang, anda bisa menjumpai banyak sekali kafe-kafe dan warung kopi di sepanjang jalan, baik jalan besar maupun jalan-jalan kecil disekitar kampus-kampus yang ada dikota ini. Hampir mulai pagi sampai larut malam tempat-tempat ngopi ini dipenuhi pengunjung, dan hampir 90% pengunjungnya adalah mahasiswa yang masih aktif study.

Dari situ ada banyak pertanyaan yang muncul dari benak penulis, bagaiamana itu bisa terjadi? Kenapa mahasiswa yang memenuhi tempat ngopi? Apa ada yang salah dengan gaya hidup seperti ini? Atau adakah faktor yang dominan dalam perkembangan gaya hidup yang seperti ini?

Mahasiswa sebagai manusia usia produktif yang populasinya hampir 40% penduduk indonesia, mulai dari kampus negeri sampai dengan swasta. Mereka semua membanjiri sudut-sudut kota dan segala aspek produktif yang ada dilingkunganya, tetapi bagaimana bisa mereka selalu terlihat diwarung kopi? Apa mereka tidak sibuk dengan kuliah? Tugas? Atau kehiduapan yang lain.

Mengingat penulis juga mahasiswa, jadi sementara ini kehidupan kampus tidak serumit yang mereka bayangkan, dalam perkuliahan normal mahasiswa satu semester hanya ada sekitar 24 sks (satuan kredit semester) dan setiap sks sekitar 45 menit. Jadi kalau dihitung matematik, 45 menit dikalikan 24 sks maka jumlahnya 1080 menit, itu dibagi menjadi 5 hari saja aktif kuliah, karena  rata-rata kampus dikota ini hari sabtu dan minggu libur.

Jadi dapat dipastikan sehari kuliah tidak lebih dari 4 jam saja. Dalam satu minggu ada sekitar 10080 menit, jika dikurangi dengan beban sks yang mereka tempuh hanya sekitar 10%,  jadi  secara tidak langsung masih ada banyak waktu luang sekitar 9000 menit dalam seminggu. Kalau dilihat dalam hari, maka dalam sehari rata-rata mereka mempunyai waktu luang sekitar 1286 menit atau sekitar 21 jam, wao banyak sekali bukan?

Tentunya jumlah itu belum dikurangi waktu lain seperti tidur, mengerjakan tugas hingga mengurus diri. Dari semua kegiatan keseharian masih ada waktu sekitar 10 jam, wel, banyak bukan 10 jam dalam sehari waktu luang, waktu inilah yang digunakan mereka untuk bersantai dan menikmati hidup, salah satunya dengan ngopi.

Secara hitung-hitungan matematis, kita sudah menemukan sedikit perkiraan estimasi waktu free yang digunakan mahasiswa setiap harinya, jadi dengan demikian wajarlah ketika ngopi sebagai pelarian pada sisa waktu tersebut. Karena memang ngopi telah menjadi candu dan budaya yang tertanam dalam otak masing-masing penikmatnya.

Lantas yang menjadi pokok persoalan adalah apa yang dilakukan diwarung kopi? Apakah mereka diwarung kopi hanya untuk megnhabiskan waktu saja? Saya kira tidak.

Ketika dilihat, banyak aktifitas yang terjadi diwarung kopi, dan sebagian besar mereka “hanyalah” ngobrol, disusul dengan main gadget, internetan dengan laptop, main kartu, main skak. Namun ada hal yang mebuat penulis merasa miris melihat itu semua,  dimana sangat jarang sekali penulis melihat budaya akademis disini.

Kita ketahui banyak orang yang mengistilahkan ngopi sebagai ngobrol pintar atau ada yang mengistilahkan ngopi adalah ngolah pikir, namun suasana tersebut masih jarang kita ketahui dalam warung-warung kopi atau cafe tempat dimana mahasiswa nongkrong dan berkumpul. Memang secara pribadi penulis tidak tau pasti apa yang mereka obrolkan, tetapi berdasarkan pengalaman hidup, mereka hanya membual untuk hal-hal yang tidak penting dan jarang sekali ada hubunganya dengan akademis atau kepentingan hidup kita.

Terlepas dari problema itu, seharusnya mahasiswa sebagai manusia dalam usia produktif dengan usia dan kesempatanya mereka bisa berkarya lebih dari pada sekedar duduk-duduk menghabiskan waktunya di warung kopi.

Terlihat tidak semua mahasiswa suka dengan dunia akademis, terlebih menulis dan membaca, terlepas dari motivasi kenapa mereka mengambil pilihan untuk kuliah. Yang disayangkan adalah ketika aktifitas ngopi menjadikan diri kita semakin jauh bahkan banyak juga lupa akan tanggung jawab.

Selama apapun waktu tersisa seharusnya kita mampu melakukan perenungan terhadap kondisi saat ini, budaya ngopi yang negatif sama sekali seperti virus, semakin lama semakin menjangkit bahkan belum ditemukan anti virusnya saat ini. Bayangkan dengan kondisi seperti ini terus terjadi, maka bisa prediksi generasi penerus kita akan menjadi generasi pemalas, gampang dicekoki faham-faham imporan, termakan kecangihan teknologi, dan mereka hanya sebagi konsumen dan sering juga menerima kerugianya.

Seharusnya perlu ada kesadaran bersama, bagaimana seharusnya hal positif seperti ngopi menjadi hal yang produktif, terlebih mendukung dunia akademis dan sosial yang mereka emban. Oleh karenanya mari kita mengkapanyekan tentang produktifitas generasi emas Indonesia saat ini, dengan memanfaatkan segala fasilitas dan banyaknya waktu luang untuk melakukan hal yang produktif, seperti membaca, menulis, berdiskusi, dan membahas kondisi sosial bangsa ini yang sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan para mahasiswa, yang katanya sebagai agen perubahan, agen sosial kontrol, dan agen-agen yang lainya. Jangan sampai kita hanya menjadi bahan cekokan para faham-faham yang disebarkan lewat media masa yang sebenarnya itu jauh dari nilai-nilai yang ada dalam bangsa kita.

Kalau tidak dimulai hari ini lantas kapan perubahan ini akan terjadi?

Memang semuanya terasa sulit, tetapi kalau kesadaran itu dibangun dari pribadi kita, saya rasa tidak ada yang tidak mungkin, semua akan menjadi lebih baik selama kita tidak pernah putus asa dan terus berusaha. Tanpa mendiskritkan pihak manapun dalam tulisan ini, pastinya pasti ada beberapa hal yang kurang berkenan, sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kebaikan kita bersama. (MSY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *