Jumat, Juni 21, 2019
Home > Sastra > Puisi Aku Rasa

Puisi Aku Rasa

Sebuah tulisan ringan manusia yang bertangan

Segelintir uraian menjadi liar karena sebuah tiupan

Aku tahu ini zaman penuh lelucon

Tak usahlah engkau menjawab kerinduan akan keadilan

Mesin waktu seolah menari-nari diatas awan

Sepoi angin merayu agar tak menjadi tikaman.

 

Wahai hujan dipelosok negeri

Kapan engkau datang lagi?

Membawa sajak indah yang terpatri di hati

 

Aku mengerti, engkau kemari hanya untuk balada dua sisi

Kalau itu memang maumu simpanlah saja

Atau berikanlah semua itu dari sanubari

 

Biarkan tangan yang melakukan tugasnya

dengan segala gerak gemulainya

Biarkan mata dengan tatapan tajamnya

Otak dengan kecerdikannya

Akal dengan logikanya, dan

Hati dengan segala kemesraannya.

 

Jika sudah seperti ini, apa yang akan kau inginkan?

Berlari bak orang yang tak tau diri

Atau membawa semua ini sebagai realisasi ilusi?

Aku tahu maumu, sudahlah…

Engkau sebatas ciptaan yang pastinya punya pencipta

Aku hanya sebatas diriku yang berbeda denganmu

Melangkah untuk maju

Aku rasa itu perlu.

Muhammad Tsabut Su’aifin
09/07/2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *