Rabu, April 24, 2019
Home > Peristiwa > Nasional > Profil dan Rekam Jejak Bambang Soesatyo

Profil dan Rekam Jejak Bambang Soesatyo

Epistemik.com – Partai Golkar resmi menunjuk Bambang Soesatyo sebagai Ketua DPR menggantikan Setya Novanto yang terjerat korupsi e-KTP. Dalam rapat internal petinggi Golkar di Bakrie Tower lantai 46 kemarin malam, Dewan Pembina Partai Golkar merestui Bamsoet, sapaan Bambang sebagai Ketua DPR.

“Suratnya disampaikan DPP ke Fraksi Partai Golkar. Fraksi disampaikan ke pimpinan DPR,” kata Ketua Bidang Legislatif, Eksekutif, dan Lembaga Politik DPP Partai Golkar Mohammad Yahya Zaini

Pelantikan Bamsoet sapaan akrab Bambang Soesatyo jika tak ada hambatan akan dilantik Senin (15/1) sore ini. Kesepakatan waktu pelantikan itu diambil setelah melalui rapat Badan Musyawarah DPR, Senin (15/1/2018). Wakil Ketua Fraksi NasDem Johnny G Plate menjelaskan soal agenda rapur nanti.

“Bamus membahas surat Fraksi Golkar mengusulkan saudara Bamsoet sebagai Ketua DPR pengganti Bapak Setya Novanto. Bamus mengambil keputusan untuk melaksanakan rapur pada jam 4 sore dengan agenda pelantikan,” ujar Johnny.

Untuk mengetahui rekam jejak Bambang Soesatyo dan profil biografi Bambang Soesatyo. Ini ada ulasan sedikit tentang profi Bambang Soesatyo. Dimana pria yang memiliki nama lengkap H. Bambang Soesatyo, S.E., MBA, lahir di Jakarta, 10 September 1962 merupakan seorang pengusaha Indonesia yang kini menjadi anggota Komisi III DPR RI dari Partai Golkar dan sebentar lagi akan dilantik menjadi Ketua DPR menggantikan Setya Novanto.

Bambang Soesatyo sendiri tercatat pernah menempati sejumlah posisi struktural di sejumlah organisasi. Di antaranya pernah menjadi Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa tahun 1983 sampai 1984. Pemimpin Redaksi Majalah Universitas Jayabaya di tahun 1984. Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia tahun 1986 dan Wakil Sekjen Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam tahun 1988.

Tahun 1993 menjabat sebagai ketua Kadin DKI Jakarta Bidang Pertahanan. Ketua Dewan Pembina Ikatan Pers Pemuda Indonesia (IPPI) tahun 1998. Ketua Badan Pengurus Pusat HIPMI tahun 2001 sampai 2005. Wakil Bendahara Umum DPP Golkar tahun 2009 sampai 2015, dan Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Pusat tahun 2012 sampai 2015.

Salah satu yang membuat nama Bamsoet terkenal saat dia bersama sembilan anggota DPR mengusulkan pembentukan Panitia Khusus Hak Angket Bank Century, pada 1 Desember 2009. Dia dikenal kritis menyampaikan pandangan tentang aliran dana lembaga penjamin simpanan pada Bank Century.

Fokus penyelidikan Pansus Angket Century adalah untuk mengetahui apakah ada indikasi pelanggaran peraturan perundangan terkait keputusan mencairkan dana talangan Rp 6,76 triliun untuk Bank Century. Mengurai sejumlah dugaan kejanggalan dan keterlibatan pihak-pihak terkait pencairan dana talangan.

Menyelidiki penyebab pembengkakan dana talangan dari Rp 632 miliar menjadi Rp 6,76 triliun, dan ke mana saja aliran dana talangan Bank Century mengalir. Serta mengkalkulasikan jumlah kerugian negara akibat kasus ini.

Sidang Paripurna DPR yang digelar Rabu (3/3/2010) memutuskan kasus Century diserahkan ke pemerintah dan aparat penegak hukum. DPR meminta agar dilakukan proses hukum terhadap sejumlah kasus di Bank Century berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh Pansus. Dan DPR membentuk tim pengawas untuk memonitor proses hukum kasus tersebut.

Bamsoet saat ini menduduki kursi ketua Komisi III DPR. Dia ditunjuk oleh Ketua DPR saat itu, Setya Novanto menggantikan Azis Syamsuddin mulai awal tahun 2016.

Nama Bamsoet juga pernah terseret dalam drama kasus e-KTP. Penyidik senior KPK Novel Baswedan menyebut Bamsoet ikut mengancam saksi kasus korupsi e-KTP, Miryam S Haryani untuk mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di persidangan.

Novel saat itu mengatakan Miryam juga menyebut nama lain namun lupa identitasnya. Sampai-sampai, kata Novel, penyidik membuka laptop mencari politikus tersebut dengan menelusuri dari asal partainya.

Namun Bambang Soesatyo membantah pernyataan Novel. Dia bahkan akan mempolisikan Novel. Sebab apa yang dikatakan Novel tidak mendasar, apalagi selama ini dirinya mengaku tak ada komunikasi dengan Miryam.

Tak berselang lama, Bambang Soesatyo mengklarifikasi pernyataannya. Menurutnya, pernyataan Novel hanya mengutip perkataan Miryam. Dia pun urung melaporkan Novel ke polisi, dan baru mempertimbangkan melaporkan Miryam. (Cob)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *