Jumat, Juni 21, 2019
Home > Opini > Politik dan Mainstreaming Media Dalam Pelemahan Pergerakan Agraria

Politik dan Mainstreaming Media Dalam Pelemahan Pergerakan Agraria

Epistemik.com Apa yang kita ketahui tentang politik? Pasti diantara kita mengkorelasikannya dengan elektoral, pesta demokrasi yang menjadi romantisme tersendiri. Secara makna kata, politik tidak bisa diartikan sesempit itu, pergeseran makna politik sendiri merupakan dampak dari tidak berjalannya pendidikan politik bagi masyarakat. Sehingga terjadi bias makna terhadap politik itu sendiri, semacam simplifikasi dari makna politik secara harfiah. Politik sendiri secara harfiah didefiniskan sebagai sebuah proses pengambilan keputusan yang diterapkan pada seluruh anggota dari setiap kelompok.

Menurut Laswell (1963) politik adalah proses dari yang mendapatkan apa, Kapan, dan bagaimana. Dalam perkembangannya politik sebagai penggunaan kekuasaan atau kewenangan, sebuah proses pembuatan keputusan secara kolektif (musyawarah), suatu pembagian sumberdaya yang khusus atau jarang ditemui (the allocation of scarce resources), atau dapat dikatakan seperti wilayah peperangan antar kepentingan yang penuh muslihat. Aristoteles menyatakan bahwa manusia adalah binatang yang  berpolitik, yang maksudnya bahwa hanya dalam sebuah komunitas politik manusia dapat hidup (kehidupan yang baik). Dari sudut pandang ini, maka politik adalah kegiatan etis berkaitan dengan menciptakan sebuah hal yang berkaitan dengan masyarakat (just society), hal itu diakatakan adalah Aristoteles sebagai Ilmu yang utama (master science).

Media disini dapat kita klasifikasikan dalam bentuk media tradisional seperti media cetak (koran, majalah, buletin brosur). Kemudian media kekinian mengacu pada era digital media dapat dilihat dari perkembangannya, seperti warta online, media sosial dan berbagai variannya. Namun dalam fungsinya media lebih dapat dikatakan sebagai medium atau alat untuk menyampaikan perihal informasi tertentu, serta dapat juga sebagai alat untuk pengalihan wacana demi propaganda tertentu. Dalam kaitannya media banyak bentuknya, jika melihat substansi materi apa yang akan disampaikan, maka media dapat diidentikan sebagai perantara untuk menampilkan pemikiran atau gagasan untuk merekonstruksi perspektif lain terkait persepsi terhadap kondisi yang faktual.

Menurut Siti Aminah media adalah sebuah institusi dan aktor politik yang memiliki hak-hak. Media juga sebagai corong dalam memainkan peran politik, salah satu diantaranya ialah mendukung proses transisi demokrasi, dan melakukan oposisi terhadap basis kemapanan. Cook mengemukakan para jurnalis sebagai pembuat konten dari sebuah media, telah berhasil mendorong masyarakat untuk tidak melihat mereka sebagai aktor politik.

Relasi Media Dengan Politik Gerakan Agraria

Persoalan media sebagai alat tidak hanya hadir dalam pemilu, namun juga muncul dalam konteks persoalan rakyat. Salah satunya perjuangan rakyat Kendeng dalam mencari keadilan atau kasus-kasus persoalan sengketa rakyat marjinal. Pemberitaan dari media tersebut bagaikan tanpa dosa, menyebarkan konten informasi yang jauh dari kebenaran. Mulai melakukan prasangka negatif pada perjuangan rakyat Kendeng hingga persoalan kaum kecil, seperti memanipulasi informasi, minim data hingga menyebarkan sesuatu yang hanya berdasarkan katanya.

Kebanyakan dari mereka menyerang dengan logika ad hominem, seperti persoalan individu, konspirasi hingga fitnah yang tak jelas sumbernya. Kenapa dibilang fitnah? karena salah satunya memuat argumentasi yang apriori. Semisal yang long march warga Kendeng itu dibiayai asing,  sehingga murni merupakan proxy war, hingga ada anggapan berpihak pada asing anti NKRI. Seolah-olah ketika Semen Indonesia enyah, maka semen asing bisa bercokol. Argumentasi lainnya, menyoal perkara siapa Gunretno hingga Romo Sandyawan. Serta eskalasi pembagian artikel fitnah, yang beredar di media sosial serta media yang kredibilitasnya dipertanyakan, semakin tinggi sebarannya. Artikel yang disebarkan melalui berbagai media tersebut memang berfokus merekonstruksi persepsi publik, tujuannya ialah meraih simpati. Jika publik bersimpati, maka kemungkinan besar “goal” terkait rencana mereka semisal perkara semen atau post-kebijakan suatu stakeholder akan tercapai.

Selanjutnya jika mengacu pada pandangan Baran dan Davis dalam mass communication (2008) untuk mencapai tujuan yang diinginkan, dalam komunikasi massa metode yang digunakan ialah propaganda. Di sini propaganda ialah berupa pemberian sebuah pandangan atau hal-hal terkait yang dapat merubah pemikiran orang lain, untuk menyetujui dan mengikuti apa yang disampaikan. Propaganda sendiri menanamkan kepercayaan, dari informasi-infromasi yang persuasif untuk menarik minat individu. Tujuan dari propaganda sendiri untuk mengubah jalan berpikir seseorang, agar sesuai dengan apa yang telah disampaikan. Hal tersebut merupakan variasi dari komunikasi, yang memiliki tujuanya untuk mengarahkan dan merubah persepsi hingga sikap.

Pada pra dan pasca perang dunia ke dua, propaganda merupakan metode yang digunakan untuk menjatuhkan musuh-musuh mereka. Secara psikologis dapat menaikan moral kelompok pembuat dan menurunkan bagi kelompok musuh. Dalam pemerintahan propaganda biasanya dibuat dengan membuat informasi palsu, serta meniadakan informasi itu sendiri untuk menjatuhkan musuhnya (oposisi). Sama halnya dalam beberapa kasus agraria hingga perkara konstelasi politik.

Hal tersebut juga didukung oleh framing media, dimana warta dibingkai sedemikian rupa untuk mempengaruhi pembaca. Analisis framing sendiri menurut Bateson (1972) framing dimaknai sebagai struktur konseptual atau perangkat kepercayaan untuk mengorganisir (agitatif) suatu pandangan politik, terkait kebijakan, dan wacana kekinian, serta yang menyediakan kategorisasi standar untuk mengapresiasi realitas. Gitlin (1980) mengungkapkan framing sebagai upaya membentuk realitas atau menyederhanakannya demi menarik perhatian. Sehingga apa yang ditampilkan mampu diserap oleh pembaca. Jadi kontruksi informasi dibingkai, dipoles semenarik mungkin agar mampu mempersuasi seseorang. Sama halnya beberapa media baik online ataupun social, menggunakan metode demikian untuk mereduksi pemahaman publik terkait sebuah persoalan.

Dalam menyikapi perkara pembentukan media untuk delegitimasi gerakan rakyat, kita bisa memakai beberapa pendekatan. Salah satunya ialah Interpersonal Deception. Buller, Judee, Dilman dan Walter (1996) dalam kajian yang disponsori University of Arizona mengatakan, IDP sebagai konsep pembohongan melalui suatu pesan. Informasi tersebut dikemas berupa pesan yang secara sadar disampaikan oleh pengirim, dengan tujuan menumbuhkan kepercayaan atas kalimat-kalimat persuasif yang bersifat palsu atau tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Jadi disini para pembuat warta berupaya untuk mempersuasi individu, dengan menyampaikan pesan-pesan palsu yang provokatif dan tanpa dasar. Sehingga target bisa terhasut oleh pesan palsu yang disebarkan.

Melihat Dampak Media

Diseminasi informasi yang masif, semakin menguatkan penyebaran informasi. Melihat dari kecenderungan individu media sosial, yang terkadang mudah dipersuasi sehingga tanpa melakukan analisis konten, mereka mempercayai hal tersebut sebagai sebuah kebenaran. Lalu hal tersebut juga dikuatkan oleh pasukan-pasukan pendukung, dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebuah kebenaran mutlak. Hasilnya banyak orang yang tanpa tahu kebenaranya, tiba-tiba mempunyai pandangan seolah-olah tahu. Dipercaya sebagai kebenaran, sehingga simpati publik beralih. Hal ini menguntungkan pihak yang memang mengharapkan situasi yang demikian.

Para pembuat warta ini bekerja dengan memakai prinsip komunikasi, dengan memanipulasi hingga melalukan suatu hal yang jauh dari data. Faktanya hal ini juga didukung media-media yang memang diciptakan demi tujuan yang demikian. Media memang telah bertransformasi sebagai industri yang menjajakan produk berupa informasi (informasi yang dikontruksi) untuk dikonsumsi masyarakat sesuai dengan pesanan atau yang mendatangkan nilai lebih.

Hal tersebut umum terjadi sekarang, dengan hegemoni sistem kapitalisme media, mereka berperan cukup vital sebagai penyalur informasi yang konstruktif untuk membentuk pola pikir dan mengubah sikap serta keberpihakan khalayak umum. Dampak yang terjadi ialah tuduhan-tuduhan tidak berdasar, sikap reaktif masyarakat yang dijadikan legitimasi baik korporasi maupun oligarki untuk membenarkan penindasan. Selanjutnya rentan memicu gesekan hingga menyebabkan konflik horizontal.

Kasus-kasus kerakyatan seperti rakyat Kendeng, selalu menjadi sasaran “pembajakan informasi”. Karena disini banyak kepentingan yang bermain, mempunyai tujuan skala besar. Sama seperti kasus-kasus Mesuji, Banyuwangi, Trenggalek, Langkat, Sukamulya dan lainnya. Media dan jurnalis mempunyai andil untuk mereduksi informasi, demi tertutupinya kebenaran. Sehingga kasus-kasus seperti ini tidak mencuat dan tidak memperoleh simpati publik. Bahkan tidak jarang mereka melakukan fitnah, seperti mengatakan kegiatan rakyat kendeng itu dibiayai asing. Ini jelas merugikan dan jahat, padahal mereka tidak hanya melawan Semen Indonesia tapi juga Indocement. Tidak hanya kasus lokal Rembang, namun juga menyisir Pati, Grobogan, Blora bahkan sampai ke Tuban.

Oleh : Wahyu Eka Setyawan (Pegiat FNKSDA Surabaya)

Referensi:
– Andrew Heywood. 2004. Political Theory An Introduction: Third Edition. New York: Palgrave Macmillan
– Andrew Heywood. 2002.  Politics: Secon Edition. New York: Palgrave Mcmillan
-Koran atau surat kabar berukuran kertas broadsheet atau 1/2 plano. Tabloid = 1/2 broadsheet. Majalah = 1/2 tabloid atau kertas ukuran folio / kwarto. Buku = 1/2 majalah. Newsletter = folio / kwarto, jumlah halamannya lazimnya 4-8, dan buletin = 1/2 majalah, brosur variatif, bisa seukuran tabloid,majalah,atau buletin, namun jumlah halamannya antara satu hingga 4 halaman.
– Siti Aminah. 2006. POLITIK MEDIA, DEMOKRASI DAN MEDIA POLITIK. Jurnal Media Masyarakat Kebudayaan dan Politik, FISIP UNAIR. Volume : 19 – No. 3 – 2006-07-01.
– Baran, Stanley J. & Davis, Dennis K. 1995. Mass Communication Theory Foundations, Ferment, and Future. Boston: Wadsworth.
– Bateson, Gregory. 1972. A theory of play and fantasy. In:Bateson, Gregory. Steps to an ecology of mind: Collected essays in anthropology, psychiatry, evolution, and epistemology. Chicago: University of Chicago Press.
– Scheufele, D. 1999. Framing as a theory of media effects. Journal of Communication, 49: 103–122.
– Burgoon, J. K., Buller, D. B., Dillman, L. and Walther, J. B. (1995), Interpersonal Deception. Human Communication Research, 22: 163–196.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *