Senin, Mei 20, 2019
Home > Peristiwa > Nasional > Perjuangan Sumpah Pemuda Generasi Milenial

Perjuangan Sumpah Pemuda Generasi Milenial

Epistemik.comPemuda adalah generasi penerus masa depan, mereka pemilik dan pelaku pembangunan masa sekarang untuk masa depan bangsa, sehinga keabsahan slogan ini tidak terbantahkan karena mau tidak mau, sanggup atau tidak sanggup, pemudalah yang akan menggantikan kedudukan generasi-generasi sebelumnya dalam membangun bangsa.

Tidak dapat dipungkiri juga pemuda zaman sekarang adalah tipe pemuda milenial yang tak pernah lepas dari smartphone dan media sosial. Sebagai bagian dari bonus demografi bagi Indonesia, jangan sampai menjadikan generasi milenial lupa akan sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia, bahkan anak-anak zaman sekarang atau yang sering disebut ‘Kids Jaman Now’ menjadi tidak faham dengan sejarah.

Di era milenial, tak jarang pemuda yang mengetahui sejarah ‘Sumpah Pemuda’ atau momentum 28 Oktober 1928. Apalagi tak seperti hari kemerdekaan yang jatuh pada 17 Agustus yang selalu diperingati di sekolah-sekolah, kantor-kantor dan kampung-kampung di seluruh wilayah Indonesia, sehingga lebih dimengerti dibanding Sumpah Pemuda.

Begitulah sumpah pemuda yang menjadi tonggak utama sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah pemuda lahir bukan karena spontanitas, tetapi hasil dari pergulatan kalangan muda yang lahir dan tumbuh pada situasi perang dunia I, diamana dibesarkan dalam kondisi situasi perang maka jiwa keras dan pantang menyerah dengan keadaan juga menjadi ciri lain dari mereka. Ikut mewarnai pula seluruh aktivitas generasi ini dalam konsep perang dengan daya tembak terkendali, terpusat, terperinci dan teratur. Mereka mengandalkan pasukan infantri, tank dan artileri. Doktrin yang ditekankan adalah artileri berfungsi menaklukkan, kavaleri sebagai tim penyerang dan infanteri untuk menduduki.

Keadaan inilah yang membentuk dan membesarkan generasi pemuda yang memiliki jiwa keras dan pantang menyerah. Hal ini juga harus dilihat sebagai tema utama sejarah bangsa ini. Periode formation nation ini bukan hanya sebatas sebuah proses, melainkan juga sebagai periodesasi yang memiliki tujuan untuk meretas sekat-sekat sosio kultural primordial yang menjadi penghambat terwujud dan terbentuknya sebuah negara dan bangsa bernama Indonesia.

Sejarah Sumpah Pemuda

Dapat diketahui perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah saat itu juga masih terpusat pada perjuangan fisik dengan perlengkapan senjata yang sederhana. Perjuangan ini masih bersifat kedaerahan dan akan menjadi penghambat terwujudnya sebuah bangsa dan negara, sehingga sangat mudah untuk digagalkan. Kemudian di awal tahun 1908, perjuangan mulai beralih pada ranah organisasi sosial dan politik. Arena perjuangan ini umumnya dimotori oleh kalangan pemuda dan pelajar Indonesia. Sebut saja, organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan lainnya. Masa ini menjadi awal dari mantapnya arah perjuangan bangsa Indonesia, yakni mewujudkan persatuan demi kemerdekaan.

Tujuan dibentuknya organisasi ini merupakan untuk persatuan dan kesatuan, serta menghilangkan sifat-sifat berbau kedaerahan. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk mengadakan Kongres Pemuda yang berlangsung sejak tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926 di Jakarta. Adapun hasil utama dari Kongres Pemuda I ini adalah mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesi dan usaha untuk menghilangkan pandangan adat dan kedaerahan yang kolot.

Namun dalam pelaksanaannya, Kongres Pemuda I masih menuai banyak masalah dan polemik. Seperti dalam perumusan cita-cita persatuan yang masih samar dan belum jelas, serta masih lekatnya unsur kedaerahan dalam beberapa organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Pemuda Kaum Betawi dan lainnya. Masalah perbedaan bahasa dan fanatisme budaya, serta ketidakhadiran para anggota Perhimpunan Indonesia juga menambah panjang deret kelemahan pelaksanaan kongres pemuda ini.

Akhirnya, mereka pun sepakat untuk kembali menyelenggarakan Kongres Pemuda II, dengan persiapan yang jauh lebih matang dan dengan harapan dapat memperkuat semangat persatuan pemuda Indonesia. Kemudian diselenggarakanlah Kongres Pemuda II di Batavia (Jakarta) pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Dalam kongres ini banyak permasalahan yang dibahas, mulai fokus pembahasan pada masalah pendidikan yang humanis dan demokratis serta pendidikan kebangsaan, demi tumbuhnya rasa cinta tanah air dan persatuan. Selain itu dibahas pula tentang pentingnya nasionalisme dan demokrasi, serta gerakan yang mendidik anak-anak sejak dini untuk disiplin dan mandiri.

Kemudian dalam kongres ini lahirlah sebuah keputusan yang penting dalam sebuah penegasan cita-cita akan adanya tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang bernama Indonesia. Tiga hal ini dirumuskan oleh pemuda bernama Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres sambil berbisik kepada Soegondo: “Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie” (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini). Soegondo kemudian membubuhi paraf setuju pada secarik kertas dan diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju. Selanjutnya Soegondo membacakan tiga keputusan kongres yang berbunyi:

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Keputusan inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda. Sebuah rumusan untuk peletakan dasar dari sejarah perkembangan Indonesia ke depan yang digunakan sebagai landasan untuk mencapai sebuah kemerdekaan. Keputusan kongres ini juga menandai bahwa semangat nasionalisme para pemuda telah mencapai tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Nilai Pembelajaran dan Perjuangan Sumpah Pemuda

Meskipun peristiwa sejarah sumpah pemuda masih menjadi sebuah cerita sejarah yang dimitoskan bagi sejarah Indonesia, akan tetapi dari sisi lain penting bagi bangsa ini belajar dari peristiwa tersebut. Karena sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lampau akan tetapi melalui sejarah dapat dilihat masa kini dan akan datang.

Kalau melihat perjuangan pemuda dalam momentum sumpah pemuda terdapat nilai-nilai perjuangan kebangsaan yang bisa kita ambil untuk dijadikan pembelajaran masa sekarang dan yang akan datang.

Yang pertama adalah perjuangan dan kecerdasan akal sehat. Hal ini dapat kita lihat dari peserta Kongres Pemuda 1928 yang kalau dilihat dari umur masihlah muda, akan tetapi mereka sangat cerdas dalam berpikir, menganalisa kekuatan diri dan lawan, cerdas dalam menggariskan strategi dan taktik, cerdas dalam memisahkan mana perkara yang penting atau mana perkara yang hanya emosional, cerdas dalam menemukan urutan prioritas, cerdas dalam mengidentifikasi mana yang menghambat persatuan dan mana yang mendukung aksi bersama antar suku, golongan, ras, agama dan budaya, cerdas dalam toleransi, dan cerdas dalam menanamkan semangat kemerdekaan.

Selanjutnya adalah perjuangan kerakyatan. Banyak peserta Kongres berasal dari kaum priyayi yang pada saat itu bukanlah golongan masyarakat biasa. Akan tetapi mereka ikut masuk melakukan pergerakan bersama rakyat jelata. Artinya dalam hal ini tidak ada pemisah bagi mereka antara mereka yang berasal dari golongan priyayi dengan golongan rakyat biasa.

Kemudian yang ketiga adalah perjuangan yang berhati nurani murni. Karena latar belakang pendidikan mereka yang kebanyakan anak priyayi dan terpelajar sehingga mereka memiliki hati nurani murni, bermoral tinggi dan penuh perikemanusiaan. Mereka melakukan perjuangan dengan tujuan kemerdekaan. Sehingga fakta sejarahnya kemerdekaan Indonesia dirintis, dibuahkan dan dilahirkan dengan cara dan sarana-sarana politik yang etis.

Nilai-nilai perjuangan kebangsaan yang terdapat dalam peristiwa sumpah pemuda bisa terjadi pada masa sekarang atau tidak mustahil terjadi pada masa yang akan datang. Dibutuhkan pemuda-pemuda Indonesia saat ini yang kritis dan cerdas, dan merakyat.

Bangsa Indonesia telah memperoleh kemerdekaannya dan menjadi bangsa yang berdaulat, sehingga pemuda-pemuda Indonesia saat ini tidak lagi perlu merumuskan ide bangsa yang merdeka. Akan tetapi pemuda-pemuda saat ini dapat saja mulai mengumandangkan ide atau gagasan mempertahankan persatuan Indonesia. Bila pemuda Indonesia angkatan 1928 dari berbagai daerah telah memperjuangkan kemerdekaan dari kolonialisme, maka pemuda-pemuda generasi milenial saat ini perlu memperjuangkan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia agar tidak terjadi disintegrasi bangsa.

Mengingat kata-kata Muhammad Yamin dalam Kongres Pemuda menyatakan “Sejarah masa kini ialah perjalanan ke arah nasionalisme yang lebih dalam dan luas, ialah perjalanan tidak hanya ke arah kemerdekaan saja tetapi juga kearah tujuan yang lebih agung dengan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi, agar Indonesia dapat menyumbangkan kepada dunia anugerah yang lebih berharga, lebih indah, sesuai dengan kehormatan bangsa Indonesia”.

Saat ini dan saat yang akan datang nasib bangsa Indonesia tidak lagi ada di tangan pemuda angkatan 1928 tetapi ada di tangan pemuda-pemuda saat ini dan kemudian ada ditangan generasi yang akan datang.

Mengembalikan Semangat Perjuangan Sumpah Pemuda Di Era Milenial

Sumpah pemuda dianggap sebagai kristalisasi yang menegaskan kecintaan terhadap tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk dan wujud kecintaan ini semakin mengalami pergeseran. Zaman yang semakin maju mengubah pola perilaku dan sikap para pemuda dalam meresapi Hari Sumpah Pemuda ini. Makna Sumpah Pemuda bagi generasi muda masa kini terasa mulai memudar. Rasa kebangsaan atau nasionalisme pada sebagian besar pemuda sudah mulai memudar bahkan menghilang dari dalam diri pemuda Indonesia.

Perwujudan sumpah pemuda kini bertransformasi menjadi bentuk yang lebih modern dan terdigitalisasi. Tentunya tidak begitu saja menghilangkan esensi dari peringatan Hari Sumpah Pemuda. Di era milenial yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, melahirkan generasi-generasi milenial yang juga sangat tergantung pada keberadaan teknologi.

Celakanya, Sebagai generasi milenial yang melek teknologi (Tech Savvy). Mereka tumbuh di tengah-tengah perkembangan teknologi yang demikian pesat ini sangat mengancam kehidupan sosio kultural manusia. Generasi milenial, cenderung hidup soliter, asyik dengan dirinya, dan asyik dengan dunianya. Gaya hidup pemuda generasi milenial yang cenderung hedonis terutama dikota-kota besar sudah tidak menjadi rahasia umum, mereka memiliki cara tersendiri untuk meluapkan ekspresi mereka, dunia hidup mereka tidak bisa lepas dari hiburan dan teknologi. Sedangkan teknologi yang serba memudahkan, membuat manusia merasa bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa memerlukan interaksi dengan banyak orang. Interaksi sosial antar individu, justru terjadi lebih banyak di dunia maya ketimbang di dunia nyata.

Keadaan seperti ini, membuat generasi milenial menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat sekitarnya. Lebih parah lagi, ketika keadaan-keadaan tersebut memicu pragmatisme dalam berpikir dan menjadikan para pemuda mulai kehilangan semangat perjuangan, begitu juga semangat perlawanan.

Jika dilihat generasinya memang sudah berubah dan berganti dengan generasi lain, yakni generasi milenial. Karena memang perkembangan generasi itu ditentukan oleh zamannya. Seperti generasi zaman perang dunia misalnya narasi-narasi yang dimunculkan adalah pertumpahan darah dan perang. Sebaliknya, generasi milineal narasi-narasi yang dimunculkan adalah bersenang-senang, selfi, menyingkat kata-kata jika mengungkapkan perasaan dan lain sebagainya.

Namun, terlepas dari itu semua, yang dibutuhkan Indonesia saat ini sesuai dengan semangat perjuangan Sumpah Pemuda adalah manusia yang kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Tentu dalam hal ini bukan manusia hebat seperti dalam cerita-cerita Super Hero semacam Superman, Batman, Wonder Women, Iron Man, Kapten Amerika, Saras 008 dan Panji Manusia milinium. Bukan itu yang dimaksud.

Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche Manusia super adalah yang mampu mengatasi konstruksi nilai, norma, dan budaya di eranya atau pada masanya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki mentalitas unggul dan manusia utama di tengah ramainya mentalitas manusia penurut yang mudah untuk disuruh. Orang-orang semacam ini memang berbeda dari masyarakat pada umumnya dan sebagian dari mereka justru dikucilkan oleh lingkungannya. Padahal, merekalah agen pembaharu peradaban sosial dalam era generasi apapun.

Indonesia memang hebat dan kaya akan ragam suku, agama, ras. Kita bangga dan perlu dijaga kehebatan ini, karena itu peran pemuda harus di buktikan dengan semangat perjuangan sumpah pemuda dalam gerakan akar rumput serta spirit yang baik dan benar tanpa membedakan satu sama lain.

Dengan memahami secara utuh potret generasi milenial di Indonesia maka kita memiliki gambaran pandangan, aspirasi dan sudut pandang mereka terhadap segala aspek didalam kehidupan mereka, sehingga pembangunan manusia Indonesia seutuhnya bisa tepat sasaran, karena pada ujungnya nanti kepada generasi milenial inilah nasib dan masa depan bangsa dan negara ditentukan.

Pemuda generasi milenial harus mewartakan sukacita, harapan dan kebenaran melalui teknologi masa kini. Bahwa pemuda tidak boleh mati semangat dan pikirannya. Para pemuda harus memiliki spiritual yang tinggi sehingga negara tetap kokoh. Ketatnya persaingan di zaman sekarang menjadi tantangan bagi generasi melenial untuk bisa mengendalikan teknologi dan media sosial untuk kepentingan global di bidang ekonomi, sosial dan politik. Di sini tantangan generasi milenial adalah menguasai instrumen-instrumen tersebut dan memahami landskap global secara ekonomi politik dan sosial. Selain itu pemuda generasi milenial saat ini juga harus memiliki kemampuan-kemampuan untuk bisa mengendalikan perkembangan teknologi tersebut.

Selain tantangan tersebut, pemuda generasi milenial saat ini juga dihadapkan berbagai tantangan seperti radikalisme, terorisme, anarkisme, narkotika, sex bebas, globalisasi, dan kejahatan siber (cyber crime), hingga lunturnya nilai-nalai nasionalisme dan toleransi yang mengakibatkan perpecahan serta mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia.

Pemuda haruslah menyadari permasalahan yang kompleks ini, dan harus mempunyai jangkar pelindung serta pijar yang menerangi pemahaman pemuda generasi masa depan, sehingga segala tantangan di atas dapat teratasi. Tumbuhkanlah jati diri pemuda dengan moral, adab, dan sopan santun. Indonesia lahir dari kemajemukan sosial budaya, seperti agama, suku, ras, bahasa, adat-istiadat dan tradisi, dimana kemajemukan tersebut oleh pemuda kala itu di satukan menjadi Indonesia. Dan pengaruh utama saat ini adalah perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi, tentunya pemuda saaat ini harus dapat memfilter segala informasi yang ia dapatkan, dan berusaha untuk mempertahankan hal-hal yang baik, dan mengadopsi hal-hal yang lebih baik. Dalam berbangsa dan bernegara generasi milenial haruslah mengedepankan demokrasi dialogis dalam menjalankan kehidupan di negara majemuk seperti Indonesia. Karena kemajemukan bukanlah penghalang untuk bersatu. Kita disatukan oleh cita-cita yang sama mewujudkan Pancasila dalam bingkai konstitusi UUD 1945.

Terakhir kalinya, Indonesia kini sudah merdeka, namun semangat Sumpah Pemuda jangan sampai luntur, mungkin hanya tujuannya yang sedikit berbeda, tujuan yang saat ini adalah bagaimana agar bangsa ini bisa jauh lebih baik dan bermartabat. (Rofiq)

 

One thought on “Perjuangan Sumpah Pemuda Generasi Milenial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *