Jumat, Juni 21, 2019
Home > Pendidikan > Pendidikan Non-Kompetensi Serta Kurikulum Yang Flaksibel

Pendidikan Non-Kompetensi Serta Kurikulum Yang Flaksibel

Epistemik.comPendidikan secara harfiah merupakan sebuah proses untuk membentuk dan mengembangkan potensi seseorang. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional,  Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Lantas bagaimana kurikulum yang flaksibel yang seharusnya diterapkan dalam dunia pendidikan?

Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, 1889 – 1959) pendidikan yaitu Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti ( karakter, kekuatan batin), pikiran dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan merupakan upaya, proses, secara aktif untuk membentuk dan mengembangkan potensi seseorang agar memajukan ilmu pengetahuan serta keterampilannya demi masyarakat, bangsa dan negaranya.

Pendidikan Nasional  menekankan pelaksanaan yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dengan berdasarkan  tuntutan perkembangan zaman.  Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Fungsi pendidikan nasional itu sendiri adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pelaksanaan pendidikan nasional seharusnya memperhatikan poin-poin penting, diantaranya: pengembangan kreatifitas, inovasi, dan kemerdekaan atau kebebasan seseorang untuk menentukan sendiri bagaimana ia mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. poin diatas dirasa sangat penting karena dapat membuat seseorang menentukan dirinya sendiri untuk berhasil.

Berdasarkan tingkat prestasi Indonesia dimata dunia, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke 111 dari 177 negara. Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang disurvey di asia pasifik ternyata empat  universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75. Laporan diatas  membuktikan bahwa prestasi kita sangat rendah dan tingkat pengetahuan kita begitu minim dimata dunia. Pemerintah dalam hal penyelenggaraan pendidikan dinilai belum maksimal. Sistem-sistem yang diberlakukan seakan tidak berhasil meminimalisir kondisi minimnya prestasi anak bangsa di negeri ini. Dengan demikian, apa yang diharapkan masyarakat mengenai sistem pendidikan yang tepat belum terlaksana dengan baik. Kondisi yang terjadi dalam instansi pendidikan tidak memberikan kontribusi dengan baik terhadap tingkat pengetahuan didikannya. Salah satu contoh yang terjadi dilapangan adalah masalah tentang sistem yang kita gunakan bersifat kompetensi. Kompetensi seharusnya tidak diberlakukan dalam sebuah instansi pendidikan, dikarenakan hal ini dapat membuat seorang pelajar cenderung pesimis dan dianggap bodoh. Permasalahan tersebut berakibat pada olokan serta ejekan terhadap seseorang sehingga dapat menimbulkan gangguan bipolar, yaitu gangguan  mental seseorang akibat berubahnya suasana hati yang akan berakibat pada depresi.

Gangguan-gangguan lainnya yang akan terjadi adalah kecenderungan seseorang untuk malas sekolah  karena takut akan olokan karena dianggap bodoh. Sebuah instansi pendidikan bukanlah sebuah pabrik untuk menciptakan robot, melainkan untuk mengembangkan potensi seseorang. Permasalahan yang terjadi dalam prakteknya adalah tidak semua metode dan sistem yang dipakai berpengaruh terhadap perkembangan pengetahuan. Contohnya jika dalam satu ruang kelas terdapat empat puluh orang pelajar, namun tidak semua memiliki potensi yang sama, mimpi yang sama, harapan yang sama serta cita-cita yang sama sehingga sangat menakutkan jika seorang pengajar mengajarkan dengan pola yang sama dengan cara yang  sama pula. Gambaran sederhananya adalah saat dokter menghadapi banyak pasien dan dokter tersebut memberikan obat yang sama, maka hasil yang didapat adalah ketragisan yakni dapat membuat seseorang meninggal akibat salah mengonsumsi obat yang diberikan.

Penulis mencoba menggambarkan secara analogi yakni antara ikan dan seorang pelajar. Saat kita memaksa mengajarkan metode yang tidak sesuai dengan karakter  pribadi seorang  pelajar maka kita tidak hanya memaksa dia membunuh harapannya, tetapi sampai berakibat pesimisme untuk mengembangkan potensinya. Ibaratnya seekor ikan di akuarium, kita tidak hanya menjadikan ikan lari didaratan tetapi memaksanya untuk  memanjat pohon. Penerapan konsep dan  sistem pendidikan yang terjadi di Indonesia benar-benar tidak sesuai dengan harapan untuk mengembangkan inovasi dan kreatifitas seorang pelajar.  Akibatnya berujung pada ketidakfokusan seseorang untuk belajar, mana yang harus ia pelajari dan mana yang harus ia tinggalkan. Itulah realitas yang terjadi saat ini.

Kurangnya pengembangan kebebasan kreatifitas melalui kurikulum yang flaksibel serta kebebasan berinovasi  untuk menentukan proses pengembangan potensi dalam kelas dapat berimbas pada runtuhnya pengetahuan dan potensi dalam diri seseorang. Kreatifitas menggambarkan sebuah proses untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan potensi. Begitupun dengan inovasi yang bertujuan mewujudkan gagasan-gagasan konstruktif baik dikelas maupun dimasyarakat. Dengan demikian sistem kompetensi merupakan salah satu racun yang dapat membunuh potensi sesorang, begitupun dengan kurikulum yang kita pakai saat ini seakan menjadi momok untuk membunuh karakter yang dapat mengembangkan kreatifitas seseorang. Seperti gambaran penulis diatas, tidak semua orang didalam kelas memiliki potensi yang sama, mimpi yang sama, cita-cita yang sama, serta harapan yang sama. Ada anak yang tidak berpotensi dalam matematika, namun pandai dalam sejarah. Ada juga yang tidak berpotensi dalam sejarah, namun menyukai kesenian. Sebuah instansi seharusnya flaksibel dalam mengembangkan potensi seseorang tanpa membunuh potensi siswa lainnya.

Dari pemaparan diatas, penulis menyajikan beberapa saran:

  1. Mengembangkan kurikulum yang bersifat flaksibel, yakni mengembangkan potensi seseorang tanpa harus membunuh potensi siswa lainnya. Sehingga seorang siswa dapat mengembang potensinya dengan inovasinya sendiri.
  2. No kompetensi dan No ujian , yakni tidak ada kompetensi bagi siswa serta ujian. Tujuannya adalah agar tidak ada pengklarifikasian seseorang. Semua orang memiliki potensi yang berbeda, tidak ada yang bodoh melainkan cara pengembangan yang digunakan seorang individu berbeda dengan individu lainnya. kompetensi seakan-akan membuat seseorang merasa lebih pintar dan cerdas yang akan berakibat seseorang memandang remeh orang lainnya serta  pengklarisifikasi antara yang bodoh, sedang dan pintar. Sistem No Ujian hanya akan membuat seseorang menjadi pesimis karena esensi dari sistem ini dibuktikan dengan nilai raporan pendidikan, dan raporan pendidikan esensinya menggambarkan hasil kompetensi.
  3. Adanya fokus potensi sejak dini. Ini berfungsi agar seseorang secara langsung mampu mengembangkan potensi itu tanpa memikirkan hal lainnya selain fokus potensinya. Sehingga tidak ada carut marut antara mana potensi serta mana yang ia benci dan tidak disukainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *