Sosio Kultur Pendidikan

epistem
Read Time4 Minutes, 44 Seconds

Epistemik.com Pendidikan merupakan sebuah kata yang sangat aneh dipahami akhir-akhir ini. Barangkali demikian kesan yang dapat kita tangkap setelah menyaksikan banyak kasus memalukan dari maupun dalam dunia pendidikan itu sendiri. Bahkan bisa dikata, semua kasus yang dewasa ini terjadi semua terkait dengan apa dan bagaimana pendidikan di negara kita tercinta. Salah seorang pedagang angkringan di pinggiran rel di Jogjakarta mengatakan bahwa korupsi dan bahkan semua pelanggaran hukum yang terjadi diakibatkan oleh gagalnya pendidikan di Indonesia. Memang ada banyak orang yang telah mengkritik apa-apa yang disebut pendidikan, tentu dengan berbagai macam versi dan sudut pandangnya. Para pengkritik pendidikan bukan berarti mereka bukan orang-orang terdidik melainkan hanya orang-orang yang kecewa dengan kondisi yang ada.

Berikut ini ada sebuah catatan yang salah satu bagiannya berisi tentang catatan kritik terhadap pendidikan. Satu hal yang menarik dari catatan ini mengawali kritiknya dengan sebuah ungkapan bahwa pendidikan hanyalah pabrik pencetak generasi pekerja (pabrikan), dalam arti masih jauh dari apa yang selama ini diharapkan yakni mencerdaskan bangsa.

Pagi yang sungguh terasa sangat bising. Aku memang sedang mendiami sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai sekolahan, meski menurutku tidak lebih dari sekedar karantina kecil untuk mencetak generasi pekerja. Anak-anak yang dididik oleh pekerja dan dengan rancangan buku kerja pasti suatu saat mereka akan merasakan bagaimana susahnya mencari kerja. Bagi orang-orang yang telah mempersiapkan diri dengan kondisi demikian, tentu semua dapat berjalan dengan mulus. Sementara bagi sebagian yang tidak menghendakinya, tentu sebuah masalah baru harus terselesaikan, terlebih ketika masalah-masalah tersebut telah membentu sebuah jejaring masif dan tak terhindarkan. Nasib bocah-bocah yang mengenyam pendidikan formal memang tragis, seolah pendidikan memang tak pernah mencerdaskan. Dan pendidikan formal memang telah menjerumuskan peserta didiknya dalam dunia kelam yang berkepanjangan. Padahal perang idealitas sudah lama bergolak dan tak ada yang mampu mencegahnya.

Setidaknya manusia-manusia terdidik mampu menjadi bagian penting yang menentukan arah dalam tarik-ulur sangkan paraning perang idealitas, bukan malah larut di dalamnya. Siapa yang tidak berani menentukan arah jalan hidupnya sendiri, ia tak akan pernah memiliki kesempatan kecuali menjalani keputusan sang pendekar idealitas, pengendali sosio-kultur. Dengan lambat dan pasti, hidup kita sedang diarahkan menuju konsentrasi materialisme tingkat akut, itulah modernisme. Modernisme memang sedang tumbuh subur di Indonesia dan seolah tak ada yang mampu mencegahnya. Dan ketika sosio-kultur modernisme telah berdiri, manusia secerdas apapun pasti hanya akan menjadi bulan-bulanan, mereka sibuk menjalani aktifitasnya masing-masing sebagai kuli.

Seorang saintis yang asyik dengan penelitiannya di laboratorium, tak lain ia sedang memantapkan kelangsungan hidup modernisme. Ataupun seorang filosuf yang sibuk dengan perenungannya, pasti ia sedang memikirkan doktrin-doktrin modernisme. Semua telah berjalan beriringan, semua sedang memastikan arah-tujuan yang sama, semua ini memang konyol karena telah menjadi kehendak dunia. Sebuah tatanan yang telah mempengaruhi kesadaran hidup manusia di dunia dan selalu diwariskan kepada anak dan cucu mereka. Tanpa disadari kepongahan-kepongahan telah menjadi sesuatu yang lumrah padahal hakim moral telah gencar menjajakan dagangannya. Nilai-nilai spiritual tradisional atau sesuatu yang konon irasional, kini sudah tak lagi ramai dibicarakan orang karena semua merasa tak lagi kompeten memahaminya. Memang sesuatu yang serba cepat, serba jelas (logis-empiris) dan serba mudah telah menjadi idola bagi banyak orang. Sementara mereka yang memiliki nalar bisnis akan semakin diuntungkan secara finansial. Padahal tak ada yang lebih waras selain orang-orang gila dan idiot. Tentu musibah tragis seperti ini akan terus berlanjut sampai suatu hari yang tak pernah dapat dipastikan.

Paranormal dan tukang-tukang ramal yang berkeliaran saat ini, mereka hanyalah rakyat jelata yang sedang berjuang untuk menghidupi keluarganya. Jangan pernah menimpakan beban terlalu berat kepada mereka karena mereka sedang menjalani teori-teori yang telah dipelajari dan selebihnya, mereka hanyalah alumni pendidikan formal, nalar formalisme telah membentuk pola pikir mereka. Apa boleh buat bila semua telah terjadi.

Pendidikan yang seharusnya mampu mengaktualkan para pesertanya, ternyata sama saja karena guru-guru pun tinggal menjalani kertas kerja yang telah ada. Anak-anak memang telah dianggap hanya sebagai peserta diklat, korban pendoktrinan. Aduh, aku sungguh tak tega merinci kekecewaanku dan balik menyalahkan guru-guru dan dosen meski mereka telah berusaha maksimal, sebatas apa yang mereka bisa. Dan aku tak bisa menuntut siapapun kali ini, kecuali kepada mereka yang telah menyadari, kemudian aku menyebutnya “generasi perang idealitas.” Barangkali mereka akan menjadi orang yang terlahir dengan penuh keterpaksaan diri, memang semua orang harus dipaksa supaya tersadar sebelum mereka menyadari sendiri apa-apa yang terjadi.

Sebelum belajar sesuatu mereka harus terlebih dahulu diajari fasih melantunkan bahasa keakuan kemudian mereka akan mengembangkannya dalam sebuah konsep hidup. Pendidikan dasar memang harus berhasil ditanamkan meski kemudian mereka akan merespon dengan caranya masing-masing. Bahasa keakuan adalah petuah-petuah moral sebagai dasar perang idealitas. Pada intinya setiap orang harus mampu berbangga dengan apa-apa yang dimiliki, semua akan berjalan lancar sampai seseorang yang mampu mengonsep teorinya sendiri. Generasi yang terdidik untuk memenangkan perang tanding antar idealitas memang bukanlah orang-orang sembarangan, mereka lahir dari keluarga-keluarga yang memiliki respon tinggi terhadap sosio-kulturnya. Kemudian dengan semangat juang membara, secara diam-diam si ibu telah membekalinya sebuah teka-teki hidup yang tak terpecahkan.

Generasi perang idealitas bukanlah anak-anak yang terlahir sebagai orang kaya secara finansial, bukan pula sebagai anak cerdas yang memiliki kecepatan berpikir secara matematis. Mereka adalah anak-anak yang kelahirannya tak pernah diduga, kecuali bila orang tuanya memiliki kesadaran diri tinggat tinggi. Generasi perang idealitas terlahir dengan membawa bakatnya sendiri, sebuah kemampuan yang membuatnya peka membaca tanda-tanda realitasnya. Mereka bukan beban sosio-kultur melainkan sebaliknya, suatu saat kendali sosio-kultur berada di balik kepala kecilnya.

Namun siapa sangka, seorang pengendali sosio-kultur memang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, kecuali apa-apa yang telah diwariskan oleh orang tuanya. Konon, orang-orang terdidik malah semakin terlihat kurang ajar karena dengan nalarnya mereka mampu merumuskan moralitas baru tentang kepongahan. Ilmu pengetahuan memang telah menjadi legitimasi berlangsungnya tindak-tindak cabul, pongah dan adu domba. Dan orang-orang primitif memang secara moral menjadi lebih beradab daripada masyarakat terdidik. Dan orang-orang primitif, setelah berhasil mengendalikan dirinya, pasti akan tiba saatnya mereka harus menuturkan pemahamannya.

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Skandal Ilmiah Dalam Keagungan Majapahit

Epistemik.com – Siapa yang tidak mengenal dengan kerajaan Majapahit, sebuah kerajaan bercorak Hindu-Budha yang pernah berdiri di Jawa bagian timur dari tahun 1293 hingga 1520. Raja pertama bernama Wijaya, menantu raja terakhir Singasari, Kertanegara. Konon Majapahit mengalami puncak kejayaan pada masa raja keempat, Hayam Wuruk (1350-1389). Akan tetapi setelah meninggalnya, […]

You May Like

Subscribe US Now