Membungkam Rasionalitas di Ruang Epilepsi

Read Time6 Minute, 0 Second

Epistemik.comBahasa merupakan alat untuk meringkus makna pada kata-kata yang diserap oleh kita setiap hari. Tanpa dipaksa ruang epilepsi serta budaya dan tradisi di manapun masyarakat kita melakukan tindak tanduk proses sosial terkonstruksi oleh logika permainan bahasa. Sarta bahkan mengkultuskan kemenangan bahasa sebagai supremasi kekuasaan. Bahasa tidak lah bebas begitu saja, dia mengalami peperangan dialogis dan perdebatan imaji yang terpaut oleh desakan untuk memberikan pengertian ataupun mempertahankan makna.

Dengan menggunakan argumen Pierre Bourdieu, “What creates the power of words and slogan, a power capable of maintaining or subverting the social order, is the belief in the legitimacy of words and of those who utter them”. Sebuah konsep, bahasa, atau wacana dianggap sah atau legitimate tergantung kepada siapa yang mengucapkannya (memproduksi). Dalam ranah politik, jika seseorang atau lembaga mendapatkan otoritas dan legitimasi untuk mengucapkan sesuatu, memproduksi wacana maka ucapan atau wacana tersebut dianggap sebagai kebenaran.

Puncaknya, kita sedang mengalami dua tabiat populer Hoax (kabar bohong) dan Hate Speech (ucapan kebencian) di tengah kehidupan kita. Tanpa dirasa pesan simbolik dari kedua hal tersebut telah menjadi sangat menentukan bentuk pengertian dan rasionalitas masyarakat terhadap realitasnya. Apa yang kita dapati hari ini, adalah bentuk penampakan yang tak memiliki nilai kebenaran. Seoalah kita berusaha menetapkan acuan kebenaran pada postulat rasionalitas yang tak memiliki kekuatan untuk dipercayai.

Dalam Hoax misalnya, sebuah berita atau informasi bisa masuk kapan saja tanpa kita minta, pesan yang dikandungnya merupakan hasil perasan dari hegemoni kekuasaan makna satu dan kemudian disalurkan pada yang lainnya. Saluran-saluran kekuasaan yang efektif untuk mengakses massa demi terwujudnya “kepentingan” tersebut adalah media, sehingga tidak salah ketika pada saat modernitas mengubah kesadaran manusia menjadi kesadaran massa. Diminic Strinati memposisikan media massa menjadi satu-satunya “kiblat” masyarakat massa. Marshall McLuhan, dalam karya monumentalnya Understanding Media: An Extension of Man, mengemukakan tinjauan kritis terhadap fungsi media, yakni tidak saja menjadi kepanjangan tangan manusia, tetapi juga menyimpan kekuatan untuk mengubah perilaku manusia. Lalu di manakah ideologi dan pandangan akan nilai-nilai manusia dalam terpaan Hoax? Bahkan tak sekalipun kita menyadari Hoax telah menjadi alat bagi mereka kaum masokis meletakkan kuasa pengetahuan terselubung.

Berbeda dengan itu, Hate Speech merupakan kegiatan manipulatif terhadap adanya persatuan dan ikatan. Kebencian memang tidak selamanya merujuk pada negatifitas seterusnya, kadang kala kebencian merupakan kritik yang terbungkam. Lebih jauhnya, kebencian sebagai kritik ini dilekatkan pada “massa”. Massa sering kali dilihat sebagai lapisan pertama yang terbuang dari elit kekuasaan dan sekelompok orang yang melawan kekuasaan serta kadang kala digunakan sebagai alat penguasa. Apa daya, nuansa sosial kita mendapati Hate Speech yang lebih “dianggap” melawan kekuasaan padahal lebih terlihat tunggangan sekelompok “diktator minoritas” meminjam istilah Prawoto Mangkoesasmito yang lari dari kenyataan bahwa lebih cenderung ditolak dari pada diterima. Dalam hal ini bisa diambil kasus ujaran keras gerakan Islam Politik di Jakarta menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 yang terlihat gagal mendapatkan suara umat Islam.

Kini bahasa yang termaktub dalam Hoax dan Hate Speec merubah informasi sebagai jentik yang menyulut kemarahan dan bahkan mungkin kekerasan. Pola baru yang menandai relasi kekuasaan dan kekerasan melalui sistem representasi simbol mengharuskan adanya pergeseran pemahaman mengenai keduanya, baik kekuasaan maupun kekerasan. Dari sini, konfigurasi baru kekuasaan dan kekerasan yang telah bermetamorfosis tersebut tidak lagi terobsesi pada narasi-narasi besar, melainkan menjelma dalam praktik simbolik yang dekat dengan kita. Peralihan pola tersebut selaras dengan kecenderungan “pembalikan ke arah bahasa” .

Dari argumen tersebut, Bourdieu memperlihatkan bahwa bahasa/wacana merupakan bagian dari aktivitas di mana sebagian orang mendominasi yang lain. Seperti halnya pelaku sosial yang memiliki modal finansial yang besar mampu mengontrol mereka yang tidak memiliki, begitupun pelaku sosial yang mampu mengakumulasi modal lingustiknya maka ia mempunyai kendali atas mereka yang terbatas modal lingustiknya. Karena itu, bahasa/wacana berperan penting untuk mendefinisikan suatu kelompok, memberi otoritas bagi pelaku sosial serta menghadirkan kekuasaan untuk berbicara atas nama kelompok itu. Dengan kata lain, otoritas untuk dipercayai dan dipatuhi menjadi tujuan dari setiap pelaku sosial dalam kaitannya dengan kekuasaan simbolik.

Prinsip tersebut juga berlaku dalam ranah bahasa di mana ada pertarungan antara wacana dominan (doxa) yang berkepentingan melestarikan dominasinya dan wacana pinggiran yang terus berupaya menggugat wacana dominan. Doxa ialah dunia wacana yang mendominasi kita. Ia merupakan semesta makna yang diterima begitu saja kebenarannya tanpa dipertanyakan lagi. Dekat dengan pengertian ideologi, doxa dapat dimengerti sebagai sejenis tatanan sosial dalam diri individu yang stabil dan terikat pada tradisi serta terdapat kekuasaan yang sepenuhnya ternaturalisasi dan tidak dipertanyakan. Ia kemudian menjadi kesadaran kolektif yang dianggap hadir begitu saja tanpa dipertimbangkan lagi. Doxa ­bisa berupa kebiasaan sederhana seperti cara bicara, cara makan, hingga masuk kepada persoalan kepercayaan.

Ketika wacana dominan mendominasi pasar, ia memiliki kemampuan untuk mendefinisikan “yang lain” (the other). Kapasitas ini dimiliki karena otoritas untuk menjadikan “the other” patuh dan percaya. Sebagaimana kita pahami konsepsi ranahnya Bourdieu, maka ranah pertarungan wacana bersifat dinamis, ada yang berupaya mempertahankan pandangan sahnya dan ada pula yang berupaya menggugat. Kedinamisan ranah pertarungan berhubungan pula dengan posisi pelaku sosial memperebutkan posisi-posisi yang strategis.

Dalam kaitannya dengan doxa, mereka yang tidak memiliki jumlah modal yang besar cenderung menggugat kemapanan doxa. Wacana yang selalu menentang doxa, menurut Bourdieu, dinamakan heterodoxa. Wacana ini mengambil strategi subversi dimana kelompok yang minim secara modal terus mempersoalkan otoritas wacana kelompok dominan dalam mendefiniskan dunia sosial. Sementara orthodoxa merupakan wacana yang bertujuan mempertahankan doxa.

Mereka yang berada dibalik wacana othodoxa ialah kelompok penguasa atau mereka yang mendukung status quo serta kalangan yang menikmati senioritas mereka di dalam ranah. Strategi yang dipakai ialah strategi defensif dan strategi pelestarian (conversation) dimana wacana kritis dibungkam agar tidak menggangu “kenyamanan” kelompok dominan. Spilman (2002) Ajang perebutan memperoleh kekuasaan haruslah dimaknai sebagai upaya memproduksi dan menampilkan pandangan dunia yang paling diakui, yang paling benar, yang paling sah. Kesemuanya ini bermuara pada kepentingan memperoleh legitimasi atau pengakuan bahwa hanya pandangan “mereka”-lah yang paling abash dibandingkan “yang lain”.

Paul Virilio The Aesthetics of Disappearance memaksudkan ruang epilepsi sebagai ruang yang selalu meniscayakan kejutan-kejutan dan frekuensi-frekuensi yang variasinya tidak terduga. Dengan arti kata bahwa ruang tersebut berganti sedemikian cepat sehingga jenjang waktu pergantiannya seakan tak terduga. Kini simbol dan bahasa seakan jauh lebih perkasa untuk membertukan pengertian yang sejak dari awal kita fahami semisal benar dalan salah, baik dan buruk. Pada akhirnya seolah sesuatu yang benar harus dipautkan dengan buruk dan salah didekatkan pada sesuatu yang bernilai baik. Agama misal, pada awal mulanya lebih dipandang sebagai ajaran yang dominan benar dan salah secara ajaran hukum ibadahnya, namun dalam dimensi lain agama memiliki tolak ukur baik dan buruk. Di saat rasionalitas masyarakat dipacu mencermati segala fenomena atau nomena yang dimensi nilainya tidak hanya benar dan salah ataupun baik dan buruk, bagaimana mungkin kita dipaksa mengerti ataupun melaksanakan sesuatu yang justeru bersebrangan secara pondasi nilai. Hanya dengan membelokkan bahasa dengan kuasa itu terlaksana.

Menurut David McCelland The Impulse to Modernization, moderenitas memang menggiring rasionalitas kepada puncaknya, tetapi juga menjadi sebuah resiko kita mengidap virus nAch (need for Achievement) yakni dorongan-dorongan jiwa untuk selalu mengejar kebutuhan-kebutuhan atributif yang hanya sekedar memenuhi tuntutan “modern” sekalipun secara faktual kebutuhan tersebut tidak terlalu mendesak untuk segera dipenuhi. Pada akhirnya rasionalitas memasuki medan penuh pertaruhan antar memiliki pandangan yang jernih dan objektif namun terhalangi tak adanya sumber idiil atau megambil kejutan-kejuatan yang disediakan oleh konstruksi di luarnya yang tak terduga sebagai sumber nilai pegangan hidup.

Oleh: Melqy Mochamad (Founder Binanalar.com)

0 0
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *