Rabu, April 24, 2019
Home > Opini > Negosiasi Post-Paradigma Era Sekarang

Negosiasi Post-Paradigma Era Sekarang

Epistemik.com – Belakangan marak diperbincangkan tentang Banser NU yang dianggap kehilangan toleransinya karena sempat mengusir acara pengajian salah seorang tokoh dari kelompok Islam.

Kejadian itu sontak memunculkan isu bahwa di Indonesia ini telah terjadi standar ganda dalam menyatakan apa yang disebut toleransi. Jalan panjang keberagamaan yang telah diusung bangasa ini seolah nampak lelah dan perlahan menuju episode paling mengerikan dari perjalanannya. toleransi menjadi semakin rumit untuk dijelaskan.

Toleransi menjadi kebutuhan yang sangat mendasar dalam sebuah masyarakat yang beragam. Terlebih dalam konteks berbicara manusia secara global. Di dunia tentulah diwarnai dengan berbagai keyakinan, identitas serta pola pikir, yang mana hal tersebut memiliki kecendrungan memicu api konflik.

Masalah kemudian muncul ketika toleransi harus memiliki referensi sebagaimana yang dikonsepsikan oleh sebagian orang. Jika demikian, maka toleransi pasti akan mengalami kehilangan ruhnya. Seperti halnya kita berbicara tentang orang-orang fundamental. Beberapa kelompok sering kali mengatakan bahwa kelompok tertentu merupakan kelompok fundamental sehingga sering kali mengambil jalan keras dalam menyelesaikan masalah.

Sementara itu mereka melihat bahwa aliran mereka yang kemudian mereka sebut sebagai moderatisme sebagai satu-satunya jalan yang ideal adalah cara hidup yang paling baik.

Sejatinya apapun, ketika terjadi klaim kebenaran secara sepihak, maka akan menghilangkan esensi kebenaran yang ditawarkan. Kelompok-kelompok yang mengaku diri moderat, disaat yang sama bisa jadi merupakan kelompok garis keras ketika sikap moderatnya telah menjadi isme yang memicu pemberangusan terhadap kelompok lain yang dianggap bertentangan. Oleh karena itu penting untuk dilakukan auto-kritik dalam hal ini.

Sebagai bentuk auto-kritik itu saya ingin membuka paradigma kita tentang apa yang kita sebut ‘berparadigma’. Setiap kelompok tentunya memilki paradigma, yaitu model berpikir, atau kaca mata berpikir dalam melihat sesuatu. Jika kaum fundamental dideskripsikan sebagai kaum yang memiliki paradigma garis keras, maka kaum moderat dideskripsikan sebagai kaum yang memilki pola pikir ‘jalan tengah’.

Sampai disini apakah pemaknaan paradigma ini sudah final? Menurut saya jika secara teoritis, kita bisa saja mengkonsepsikan demikian, tapi jika berbicara praktisnya maka sering kali kaum fundamental dan moderat menjadi tumpang tindih dalam aplikasinya.

Sering saya menemukan aktivis NU (yang katanya moderat) lepas kendali jika sudah berbicara ideologinya. Karena fanatismenya, terkadang mereka menjadi seperti kelompok fundamental, melakukan anarkisme, kampanye kekerasan verbal di media dan berbagai contoh lain yang menunjukkan paradoksitas orang-orang yang mengaku moderat. Hal semacam ini seringkali saya sebut sebagai auto-fundamentalisme. Yaitu sikap yang tanpa sadar telah membuat kelompok moderat besikap fundamen.

Paradigma dengan demikian, tidak pernah bersifat final. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh situasi dan keadaan. Itulah kemudian mengapa Thomas Kun mengkonsepsikan adanya fenomena ‘pergeseran paradigma’. Paradigma yang sudah tidak relevan akan hilang dimangsa waktu. Saat itu terjadi, paradigma baru akan lahir mengisi ruang kosong yang ditinggalkan paradigma sebelumnya. Dengan demikian paradigma itu seharusnya bersifat elastis. Mampu bergerak kemana saja, diamna saja, dan dalam waktu yang bagaimanapun, sehingga fungsi berparadigma bisa lebih efektif dan nampak.

Untuk bisa memahami sekian banyak paradigma yang berkembang dalam diri manusia, penting untuk mempelajari berbagai paradigma yang mereka kembangkan. Hal ini penting agar kita tidak terjebak dalam pemaknaan kita terhadap paradigma secara subjektif.

Terkait hal itu, saya rasa kita harus menggunakan nalar post-paradigma agar mampu memainkan peran sebagai orang-orang yang mengaku berada di jalan tengah. Funadamentalisme bisa jadi adalah sikap moderat yang dibakar, dan sebaliknya moderatisme bisa jadi merupakan fundamentalisme yang dibekukan. Maka dari itu, jika moderatisme adalah paham untuk menjadikan paradigma, identitas dan keyakinan diinjak-injak, maka fundamentalisme bisa jadi adalah perlawanan. Kenyataan semacam ini saya sebut sebagai “negosiasi post-paradigm”

Konsep tentang post-paradigma ini bercermin dari konsep negosiasi post-theistik yang dikembangkan oleh para pemikir pasca-comtian. Sebagaimana maklum diketahui, bahwa Comte menegaskan bahwa model bepikir manusia terskema dalam tiga hal: yaitu mitos, teologi dan positvisme (filsafat). Bagi Comte, kemajuan peradaban manusia hanya akan terjadi ketika pola pikir manusia telah sampai pada ranah positivisme. Namun demikian sejarah telah mencatat, bahkan dengan kemajuan peradaban yang dicapai manusia hingga saat ini masih banyak yang terjebak dalam pola pikir mitos dan teologis. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam tataran ideologi yang paling mendasar sekalipun, negosiasi masih terus berlangsung dalam diri seseorang.

Contoh kongkrit untuk hal ini bisa kita lihat pada salah seorang tokoh intelektual bangsa ini yang tergabung dalam ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dengan begitu yakin dan mati-matian membela seorang tokoh kontroversial bernama Taat Pribadi yang konon dikatakan mampu menggandakan uang. Dalam kasus ini terjadi negosiasi post-theistik oleh tokoh tersebut. Di satu sisi dia telah sampai pada pola pikir filsafat, tetapi disisi lain dia masih terperangkap dalam pola pikir mitos (penggandaan uang).

Gambaran tentang negosiasi post-theistik ini sejatinya terjadi juga dalam hal berparadigma. Sehingga pertanyaan yang diajukan ketika seseorang mengaku memiliki paradigma adalah “apa setelah berparadigma?” karena berparadigma bukan tentang mengklaim diri menjadi orang paling baik dan suci, tetapi adalah cara agar semua manusia menjadi manusia seutuhnya. (Warok Akmali)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *