Rabu, April 24, 2019
Home > Opini > Negosiasi Pasar Yang Menciderai Eksistensi Agama

Negosiasi Pasar Yang Menciderai Eksistensi Agama

Epistemik.com – Belakangan banyak produk-produk komersial selalu menggunakan atribut agama untuk menegaskan legalitas mereka secara hukum Islam. Penggunaan stempel halal yang dikeluarkan oleh MUI misalnya, menjadi salah satu tanda bahwa agama menjadi instrumen penting dalam membangun segmentasi pasar. Selain menggunakan hukum Islam, pasar juga sering kali menggunakan ritual agama sebagai komoditas dalam transaksi pasar. Contoh nyata dalam hal ini adalah haji dan umrah.

Agama dengan demikian menjadi alat bagi segelintir orang untuk menjadikan produk mereka semakin diminati oleh para pemeluk agama. Seolah agama menjadi alat negosiasi yang sangat efektif untuk meningkatkan transaksi ekonomi.

Dalam menegosiasikan pasar, agama sering kali dihadirkan dalam bentuk simplikasi ajaran sehingga membuat esensi ritual keagamaan menjadi terciderai. Oleh karena itu, agama dengan demikian mengalami premordialisasi yang disebabkan oleh komodifikasi pasar yang berlebihan. Agama sering kali dimaknai hanya sebatas simbol belaka.

Tulisan ini akan menghadirkan bentuk-bentuk negosiasi pasar terkait eksistensi agama. Paling tidak ada tiga aspek yang bisa dilihat dari fenomena komodifikasi agama, yang oleh Irwan Abdullah (2010) disebut sebagai resistensi agama. Pertama aspek agama yang paling menonjol dipasarkan adalah simbol dan alat peraga keagamaan, seperti baju muslim, songkok, surban, sarung, tasbih, jilbab, dan lain sebagainya.

Berbagai alat ibadah tersebut menjadi objek penting komoditas yang dipasarkan. Biasanya sangat terkait dengan perayaan-perayaan hari besar tertentu. Seperti dalam bulan ramadhan, idul fitri dan idul adha. Pada menjelang perayaan-perayaan tersebut, produsen-produsen produk berbau agama itu melakukan promosi besar-besaran. Dalam proses pelaksanaan promosinya, agama lagi-lagi nampak mengalami simplikasi. Seperti iklan yang menggambarkan bahwa pada saat lebaran, akan sempurna hari raya yang dijalani ketika menggunakan produk mereka. Padahal jika kita mengacu pada ajaran Islam sesungguhnya, tidak ada hubungan antara berlebaran dan berbaju baru.

Selain itu, aspek agama yang sering dikomodifikasi oleh pasar adalah ritual keagamaan, menjamurnya biro travel haji dan umrah menjadi salah satu bukti kongkritnya. Aspek ini karena rekayasa pasar sering kali mengarah kepada simplikasi agama juga. Seringkali dalil-dalil tentang berhaji terus digunakan dalam mempromosikan produk mereka. Bahkan dalam bisnis haji kita mengenal istilah haji plus, yang mana perbedaan antara haji biasa dengan haji plus hanyalah biayanya. Haji plus cendrung menarik biaya yang tinggi. Tambahan pula, menjamurnya paket wisata religi yang digandrungi banyak kalangan masyarakat muslim menjadi bukti fenomena tersebut.

Selain kedua aspek tersebut, dalam aspek keagamaan yang juga tak kalah sering dikomodifikasi adalah identitas keagamaan. Identitas agama memang selalu mengundang euforia bagi pemeluknya. Bentuk negosiasi pasar berupa identitas agama ini dapat ditemukan pada iklan-iklan makanan, minuman, busana dan berbagai produk lainnya yang dibuat khusus untuk momen tertentu seperti ramadhan dan lebaran. Selalu ada cara agar produk mereka terkesan sesuai dengan suasana ramadhan. Bahkan meskipun produk yang secara tehnis tidak digunakan dalam ritual keagamaan, bisa dicitrakan menjadi bagian dari ritual keagamaan.

Aspek identitas agama ini memang tidak hanya dimodifikasi dalam negosiasi pasar tetapi lebih jauh telah menjangkau bidang kehidupan yang lebih luas, seperti ketika agama dinegosiasikan untuk menjadi pilihan politik masyarakat, juga ketika agama diasosiasikan kepada karakter tertentu untuk membangun citra negatif terhadap agama tertentu agar terjadi permusuhan dan teror yang bergentayangan.

Dari fenomena diatas, dalam beragama telah mengalami resistensi yang cukup jauh. Yakni sebuah peralihan paradigmatik antara agama yang bersifat esensial menuju agama yang bersifat eksistensial. Pergeseran semacam ini menjadikan orientasi beragama menjadi hanya tentang pemerolehan citra, bukan dampak aksiologis dari beragama itu sendiri. Itulah yang barang kali telah menjebak kehidupan beragama dewasa ini sehingga cendrung mengarah kepada dua hal yang sangat berbahaya, yaitu: intoleransi dan radikalisme. (Warok Akmaly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *