Sabtu, Februari 23, 2019
Home > Pendidikan > Menyiapkan Manusia Yang Siap Memperjuangkan Masa Depan

Menyiapkan Manusia Yang Siap Memperjuangkan Masa Depan

Epistemik.comMasyarakat yang ingin maju adalah masyarakat yang siap memperjuangkan masa depan nasibnya sendiri. Masa depanlah yang membuat harapan dan tindakan menjadi mungkin. Masa depan merupakan kondisi bagi perbuatan, namun masa depan bukan merupakan perbuatan (Ricoeur, 1966). Masa lampau merupakan sesuatu yang telah terjadi, manusia tidak mungkin untuk mengubahnya ataupun mengulanginya. Karena semuanya telah menjadi kenangan dan menambah kekayaan pengalaman. Biarlah sejarah mencatat kejayaan masa lampau, biarlah masa lampau menjadi milik masa lampau. Yang terpenting bagi manusia sekarang adalah untuk memproyeksikan dan merencanakan masa depan. Lain halnya dengan masa merupakan sesuatu yang belum terjadi, manusia masih mungkin untuk menyusun rencananya.

Globalisasi saat ini merupakan fenomena yang harus dihadapi dan ditanggapi secara positif, agar manusia siap untuk menghadapinya, maka yang perlu dipersiapkan adalah membangun dan mengembangkan sikap hidup yang sesuai dengan tuntutan globalisasi: kreatifitas, profesionalisme, produktifas, penghargaan terhadap waktu, disiplin dan lain sebagainya. Tanpa itu semua, manusia akan tetap berjalan ditempat dan bahkan mungkin terseret oleh arus globalisasi.

Yang penting bukan apa itu hidup, melainkan bagaimana kita harus hidup (Kierkegaard, 1947). Hidup adalah tujuan dan tidak pernah menjadi sarana. Segala sesuatu yang membuat hidup terus berlangsung adalah baik, sedangkan segala sesuatu yang mengancam kelangsungan hidup adalah jahat. Manusia agar dapat menjalani hidup dengan baik mereka harus memiliki kesiapan dan kemantapan. Setiap manusia harus memiliki tujuan hidup yang jelas dan mempunyai otonomi sendiri baik dalam berfikir maupun berbuat.

Dalam menatap masa depan, setiap dalam diri manusia harus mampu menjawab pertanyaan “Aku mau jadi apa?” dan setelah memutuskan jawaban yang pasti dan merasa mantap dengan jawabannya, secara konsekuen dan sepenuh hati mereka harus berusaha untuk merealisasikan jawaban tersebut. Dengan begitu mereka tidak akan kehilangan arah dan orientasi tujuan hidup dimasa depan, dan merekan akan benar-benar mampu menjadi apa yang dikehendakinya.

Kita ketahui saat ini sangat banyak sekali manusia yang mulai kehilangan arah geraknya, banyak manusia yang lupa dengan apa yang harus dilakukan dan terperosok jatuh kejalan yang sesat, dan banyak pula anak-anak kita yang tak mengetahui apa yang menjadi cita-citanya dan harapannya, banyak generasi penerus bangsa yang putus harapan dengan menjerumuskan diri pada dunia kegelapan. Jika manusia sebagai inti penyusun masyarakat sejak dini telah mengetahui apa yang harus dilakukan, dia akan menjalani hidup dengan mantap, tidak bingung dan resah dalam menghadapi setiap perubahan suasana, termasuk munculnya arus globalisasi. Manusia semacam ini akan mampu menetapkan dan menentukan pilihannya dengan tepat yang sesuai dengan tujuan hidupnya. Jika mereka sudah mempunyai tujuan dan mengetahui apa yang mereka lakukan, pasti akan menjadi kecil kemungkinannya untuk terperosok kejalan yang sesat, mereka akan mampu menjadi dirinya secara otentik, mereka adalah dirinya sendiri dan bukan sekedar imitasi orang lain. Mereka akan tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mereka akan lebih memilih mengisi hidup dengan sesuatu yang bermakna untuk hidupnya.

Untuk mencapai masyarakat yang para anggotanya memiliki kepribadian yang mantap dan percaya diri, usaha dari pihak yang berwenang (para pejabat birokrasi dan tokoh masyarakat) sangat diperlukan, yaitu dengan memberi contoh, memperbaiki prasarana pendidikan, terus menerus berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat dengan peningkatan taraf hidup. Karena manusia yang serba kekurangan dimanapun akan sulit untuk diajak berfikir kreatif dan produktif.

Suara Epistemik

EPISTEMIK
Abadikanlah fenomena yang lupa dibicarakan manusia pada umumnya, dan tunjukkanlah apa yang tergambar dibalik realitas yang tidak pernah diabadikan oleh sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *