Senin, Mei 20, 2019
Home > Opini > Mempertahankan Petani Kota

Mempertahankan Petani Kota

Epistemik.com Ketika kita melihat wajah daerah dan kota hari ini semakin hari semakin cantik, dan semakin hari semakin penuh dengan bangunan-bangunan dari beton sehingga sedikit sekali menyisakan lahan pertanian yang kian hari kian terhimpit dan sempit. Pertama kali menginjakan kaki dikota besar sekitar tahun 2010 dimana belum begitu banyak perubahan seperti ini, begitu enam tahun berjalan rasanya lahan-lahan yang saya kenal semakin habis dan menjadi perumahan-perumahan, yang dulunya terlihat sawah sekarang menjadi bangunan.

Menjadi petani dikota seperti ini bukan hal mudah, bukan karena tanahnya tidak subur atau mahalnya biaya produksi atau kebutuhan untuk bertani, tetapi adalah tawaran dari investor yang sangat menggiurkan, bayangkan saja tanah disekitar lokasi saya saat ini sudah mencapai angka 3-5 juta per meternya, bahkan bisa lebih dari itu ketika berlokasi ditempat setrategis. Sangat-sangat menggoda iman para petani. Ketika kehidupan semakin sulit dan himpitan ekonomi semakin mencekik maka tawaran seperti ini sering melenakan para petani untuk menjual lahan garapanya kepada para devoleper, dengan demikian jarang sekali petani yang bisa mempertahankan tanahnya dikota ini.

Selain kompleksitas diatas pemerintah kota sendiri juga tidak serius melindungi lahan garapan yang ada dikota, sehingga semakin lama akan semakin habis. Tidak bisa dipungkiri bahwa tanah dikota ini adalah tanah yang sangat subur dan sangat produktif, bisa tiga kali panen dalam setiap tahunya. Tanah di Malang subur karena Malang adalah kota yang diapit oleh beberpa gunung berapi yang beberpa waktu dulu sering mengeluarkan abu vulkanik yang mnyuburkan tanah. Kemudian irigasi disini sangat memadai, kalau dilihat dari bekasnya sudah sangat lama, mungkin sejak zaman belanda dulu, disudut-sudut pinggir kota tidak ada sawah yang tidak ada irigasinya, tapi sayang sekali irigasi itu menjadi parit buangan limbah rumah tangga karena sawahnya sudah berubah menjadi pemukiman warga.

Berangkat dari permasalahan diatas bukan menjadi kemungkinan kalau kita tidak bisa bertani di kota ini, dengan semakin sempitnya lahan kadang beberpa pemilik tanah juga membiarkan tanahnya menganggur dan terbengkalai begitu saja, itu biasanya tanah yang sudah di jual ke investor tapi belum bisa di bangun. Oleh karenanya seharusnya ada peringatan kepada para pemilik tanah yang tidak tergarap untuk mengaktifkan lahan pertanian tersebut, bisa dengan menggarapnya sendiri, menyewakan, atau bagi hasil dengan para petani lokal yang ada, jadi dengan semakin sempitnya lahan kita masih tetap bisa menyumbang bahan makanan yang bermutu untuk masyarakat, sehingga paling tidak kita bisa mengurangi jumlah impor bahan baku makanan dari luar negeri yang jumlahnya setiap tahunya semakin bertambah.

Pertanian di era modern mendukung kemajuan bangsa, memberikan makanan yang sehat pada masyarakat, memberikan lahan pekerjaan dan menjaga ketahanan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *