Senin, Mei 20, 2019
Home > Peristiwa > Internasional > Halimah Yacob; Presiden Wanita Muslimah Pertama Di Singapura

Halimah Yacob; Presiden Wanita Muslimah Pertama Di Singapura

Epistemik.comSiapa yang tidak mengenal Halimah Yacob yang akhir-akhir ini mulai banyak dibicarakan publik dan menjadi sorotan dunia, baik melalui media lokal maupun media internasional, berkat terpilihnya menjadi seorang presiden wanita pertama di Repubik Singapura. Halimah Yacob memenangi pemilihan sebagai Presiden Singapura berkat tersingkirnya 2 calon lain akibat tidak sesuai dengan kriteria.

Tidak heran, seiring berkembangnya zaman sudah banyak sekali perempuan yang menjabat sebagai pimpinan negara melalui emansipasi perempuan yang sudah banyak dilakukan dan diakui oleh dunia. Halimah Yacob saat ini menjadi perbincangan dunia, karena dia dari etnis Melayu yang selama ini langka jadi pemimpin negeri Merlion. Begitu juga dia satu-satunya wanita dalam sejarah Republik Singapura yang menjadi presiden dan presiden pertama dari kalangan muslim Singapura.

Siapa sangka, Halimah Yacob sangat dikenal sebagai seorang yang sederhana dan berjiwa sosial tinggi. Namun untuk mengenal lebih jauh siapa sosok Halimah Yacob berikut ini kami rangkumkan biodata, biografi dan profil Halimah Yacob:

Biografi Halimah Yacob

Halimah binti Yacob adalah nama lengkapnya, wanita yang lahir di Queen Street Singapura pada tanggal 23 Agustus 1954 ini berasal dari keturunan India dan ibu keturunan Melayu. Lahir dari keluarga yang kurang mampu, Halimah panggilan akrabnya tetap mencoba meraih pendidikan yang tinggi. Buktinyan ia berhasil mendapatkan gelar Doktor kehormatan dari National University of Singapore.

Namun sebelum mendapatkan gelar pendidikan tinggi seperti saat iniHalimah Yacob belajar di Singapore Chinese Girls’ School dan Tanjong Katong Girls’ School. Halimah kecil juga tak mengenal malu dan tidak mudah putus asa. Bahkan ketika Ayahnya meninggal saat ia masih berusia 8 tahun, Halimah Yacob harus membantu sang ibu untuk berjualan nasi padang. Bahkan ia ikut mencuci, membersihkan meja dan melayani pelanggan di kedai kecil milik ibunya.

Semasa sekolah, Halimah Yacob termasuk anak yang cerdas, terbukti dengan di terimanya dia di dua sekolah bergengsi di Singapura tingkat SMP dan SMA. Dia merupan segelintir wanita Melayu yang pada waktu itu di terima di SMP Singapore Chinese Girl’s School yang sebenarnya didominasi oleh wanita beretnis Tionghoa, lalu pada masa SMA dia bersekolah di Tanjong Katong Girls’ School.

Presiden Tony Tan (kanan) saat prosesi penganugerahan Doktor Kehormatan kepada Halimah Yacob (kiri). Foto: www.todayonline.com

Kemudian Halimah Yacob melanjutkan S1 di perguruan tinggi bergengsi di Singapura yakni University of Singapore di mana Halimah Yacob mendapatkan gelar LLB (Bachelor Legum Of Law) pada tahun 1978. Selanjutnya setelah mendapat bantuan biaya dari Islamic Religious Council of Singapore, Halimah menyelesaikan studinya di National University of Singapore pada tahun 2001 dan mendapat gelar LLM (The Master of Laws). Sementara itu, untuk menunjang biaya kuliahnya, Halimah memilih bekerja di perpustkaan. Kemudian pada tanggal 7 Juli 2016 Halimah mendapat gelar Doktor Kehormatan dari National University of Singapore

Kehidupan Halimah Yacob

Halimah Yacob merupakan seorang wanita pertama yang menduduki posisi Presiden dalam sejarah Republik Singapura, selain itu ia merupakan seorang wanita dari ayah keturunan India dan Ibu keturunan Melayu dan beragama islam.

Halimah Yacob dikenal sebagai seorang yang sederhana, Ketika melihat Halimah kecil harus membantu sang ibu untuk berjualan nasi padang. Bahkan ia ikut mencuci, membersihkan meja dan melayani pelanggan di kedai kecil milik ibunya. Selain itu dapat dilihat dari kehidupannya saat ini walaupun ia sedang menjabat sebagai DPR ia tetap memilih tinggal di rumah susun padahal tentunya sudah ada fasilitas mewah yang dapat ia gunakan.

Halimah Yacob saat memasak dirumah susun yang ditinggali. Sumber nwsify.com

Halimah sendiri sudah menghuni rumah susun tersebut sejak 1983, di sebuah rumah susun milik pemerintah di Yishun, yang terdiri dari satu 5 kamar rata dan satu 4 kamar rata bergabung bersama dengan menghancurkan dinding tengah. Di rumah susun tersebut Halimah sudah merasa cukup untuk ia tinggali bersama suaminya, Mohammed Abdullah Alhabshee, dan 3 dari 5 anaknya.

Selain itu Presiden Wanita pertama Singapura ini juga seorang yang berjiwa sosial tinggi, hal ini terbukti karena ia sangat memperjuangkan hak pekerja bahkan Halimah Yacob berjuang selama 30 tahun NTUC hanya untuk memperjuangkan hak-hak yang harus didapatkan oleh para pekerja di Singapura.

Perjalanan Karir Halimah Yacob Hingga Menjadi Presiden

Perjalanan karir Halimah Yacob dimulai dari bekerja sebagai praktisi hukum di Kongres Serikat Perdagangan Nasional pada tahun 1992. Dia ditunjuk sebagai direktur Institut Studi Ketenagakerjaan Singapura (sekarang dikenal sebagai Institut Studi Ketenagakerjaan Ong Teng Cheong) pada tahun 1999.

Halimah sendiri mulai memasuki dunia politik pada tahun 2001 saat dia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Konstituensi Perwakilan Jurong Group (GRC). Pada saat pemilihan umum tahun 2011, Wanita berhijab ini diangkat menjadi Menteri Negara di Kementerian Pengembangan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga.  Setelah perombakan kabinet pada bulan November 2012, dia dipindah menjadi Menteri Luar Negeri di Kementerian Sosial dan Keluarga. Halimah juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kota Jurong. Dan pada 14 Januari 2013 dirinya dipilih oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong untuk menjadi Ketua Parlemen. Pelantikan itu membuat Halimah Yacob menjadi Ketua Parlemen perempuan pertama di Singapura.

Pada Januari 2015, Halimah Yacob dipindahkan ke Komite Eksekutif Pusat Partai Aksi Rakyat bagian badan pengambilan keputusan partai tertinggi. Ditahun yang sama, Halimah menjadi satu-satunya calon minoritas untuk kelompok PAP yang memperebutkan GRC Mersiling-Yew yang baru dibentuk.

Bahkan dalam karir Halimah juga pernah menjadi perwakilan Singapura pertama di organisasi internasional buruh (ILO) pada tahun 1999-2001.

Selain itu Halimah Yacob juga dikenal aktif berkampanye melawan kelompok Islam radikal. Dia kerap mengecam kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan mengutuk dan melepaskan diri dari Negara Islam Irak dan Levant melalui sebuah strategi yang dikenal sebagai taqiyyah atau disimulasi.

Sumber: www.womensweekly.com

Pada tanggal 7 Agustus 2017, Halimah Yacob mengumumkan bahwa ia mengundurkan diri sebagai ketua parlemen dan anggota parlemen Malsiling Yew Tee setelah menjabat dari tahun 2015-2017 atas perwakilan Konstitue Malsiling Yew Tee. Pengunduran diri ini dilakukan Halimah untuk jalan mencalonkan diri di pemilihan presidan Singapura 2017. Ia dicalonkan untuk menjadi perwakilan bagi anggota komunitas Melayu. Secara luas, Halimah dipandang sebagai kandidat PAP untuk pemilihan dan telah disahkan oleh Perdana Menteri Lee Hsien Loong.

Pada tanggal 25 Agustus 2017, Halimah Yacob resmi meluncurkan situs kampanyenya dengan slogan “Do Good Do Together” yang mengakibatkan banyak kritikan dari beberapa netizen karena dianggap tidak ilmiah. Padahal dia menjelaskan slogannya dimaksudkan agar mudah diingat.

Dalam pencalonannya menjadi presiden Singapura, Halimah harus bersaing melawan 2 calon lain, yaitu Mohammed Salleh Marican, yang merupakan Chief Executive dari Second Chance Properties, dan Farid Khan, yang merupakan Chairman dari Bourbon Offshore Asia Pacific.

Kemenangan telak pun diraih Halimah Yacob, paska hanya dirinyalah yang mampu mendapatkan surat kelayakan. Dan Halimah akan menggantikan posisi Tony Tan, yang telah 6 tahun menjabat sebagai presiden negara tersebut. Selain menjadi wanita pertama dan wanita muslimah yang menjabat sebagai presiden, Halimah Yacob juga akan menjadi warga keturunan Melayu pertama yang menyandang jabatan presiden. (RF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *