Jumat, Juni 21, 2019
Home > Birokrasi > Apa Itu Politik Uang Dan Apa Bedanya Dengan Uang Imbalan?

Apa Itu Politik Uang Dan Apa Bedanya Dengan Uang Imbalan?

Epistemik.com – Pemilihan langsung dari tingkat presiden sampai pemilihan kepada desa adalah proses demokrasi. Dengan memilih pemimpin secara langsung rakyat bebas menentukan pilihanya siapa yang pantas menjadi pemimpin secara bebas tanpa ada pengaruh dari pihak manapun dalam bentuk apapun. Akan tetapi keadaan itu tidak sesuai yang diharapkan, banyak pihak yang berkepentingan memiliki berbagai macam cara untuk meraih hati rakyat. Yah, salah satunya dengan membeli suara.

Banyak proses dalam kampanye untuk meraih hati rakyat, dimana siapa nanti yang pantas menjadi pemimpin dan apa yang akan dilakukan setelah terpilih nanti. Haqul yakin saya berpendapat kampanye tidak bisa dijalankan sendiri oleh setiap calon dalam meraih suara rakyat. Setiap calon pemimpin pasti membentuk tim pemenangan atau tim sukses. Yah, ada yang menjadi relawan tanpa dibayar ada juga yang dibayar, baik berbentuk uang atau dalam hal lainnya.

Apakah ini bisa disebut politik uang? Saya menyatakan ini bukan politik uang. Tentu tidak sesederhana itu untuk menyatakan hal itu adalah politik uang. Untuk selanjutnya mari kita bahas apa sebenarnya yang dimaksud dengan politik uang.

Hubungan antara tim sukses (timses) dengan seorang calon dalam pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah bagaikan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Timses akan melakukan berbagai cara untuk memenangkan calon yang mereka dukung baik secara terang-terangan atau dengan cara dibalik layar tanpa terlihat oleh publik. Sedangkan calon atau kandidat, akan menjadi aktor yang dilihat oleh publik untuk menentukan pilihannya. Baik timses maupun pasangan calon bekerja keras untuk memenangkan kontestasi. Meskipun terkadang timses rela tidak dibayar atau bekerja dengan karela, akan tetapi sebagai wujud imbalan jasa tidak jarang kandidat membayar timses tersebut. Apakah ini politik uang? Tentu saja tidak dong.

Nah, terus politik uang itu seperti apa? Politik Uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. Pembelian bisa dilakukan menggunakan uang atau barang. Politik uang bisa dikatakan sebuah bentuk pelanggaran kampanye.

Mendapatkan suara dengan memberikan imbalan tentu saja merusak proses demokrasi. Baik ditingkat nasional sampai desa-pun politik dengan jual beli suara sperti ini telah mencoreng demokrasi.

Untuk itu menjadi tim sukses, berarti harus siap bersinggungan dengan segala karakter dimasyarakat untuk membantu calon dalam meraih hati rakyat dengan program-program yang diangkat oleh calon.

Memang, terkadang ada tim sukses berkeinginan masuk untuk mencari keuntungan atau kedudukan. Namun, jangan salah, banyak pula relawan yang menyumbangkan tenaga, pikiran bahkan hartanya secara sukarela. Mereka yang masuk kategori ini biasanya sudah memiliki banyak hal dalam hidupnya. Mereka semua bekerja keras untuk kandidat pasangan calon dalam membantu menyerap aspirasi rakyat dan menyusun strategi dalam berdemokrasi. Jadi adalah hal wajar jika kandidat memberikan sesuatu kepada tim sukses yang bekerja keras tersebut.

Hal ini berbeda dengan politik uang yang pada prakteknya membeli suara untuk memilih kandidat. Jadi, sangatlah berbeda antara memberikan imbalan kepada tim sukses dan politik uang. Walau keduanya sama-sama memberikan materi tapi ada proses yang berbeda. Memberikan imbalan kepada tim sukses ada hubungan profesionalisme dan tidak memaksakan untuk memilih dengan membeli suara.

Politik uang adalah cara instan untuk mendapatkan suara dengan cara menyuap atau membeli suara rakyat. Tentunya politik uang adalah musuh demokrasi

Mencalonkan diri dalam pemilihan langsung itu memang memerlukan biaya yang besar. Biaya kampanye tidaklah murah proses politik membutuhkan banyak uang. Hal ini dalam prakteknya memang benar-benar terjadi. Dalam hal ini tidak ada yang salah, yang salah adalah dimana uang biaya tersebut dipergunakan untuk membeli suara rakyat. Jika dipergunakan untuk kampanye tentunya sama sekali tidak ada yang salah, ini adalah proses demokrasi yang tentunya perlu biaya termasuk memberi imbalan kepada tim sukses untuk kepentingan kampanye. Yang salah adalah dipergunakan untuk membeli suara dengan cara menyuap, inilah politik uang sebenarnya. Semoga Demokrasi di Indonesia mulai dari tingkat pemilihan presiden hingga pemilihak kepala desa berjalan secara bersih.

Mocol, Mahasiswa Pasca Sarjana UI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *